RANCANGAN IMPLEMENTASI INTEGRATED THEMATIC INSTRUCTION (ITI) DI SEKOLAH DASAR GUGUS KANGGRAKSAN KOTA CIREBON

IM_PASER_461

Cecep Kustandi

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Inovasi pendidikan di bidang kurikulum diharapkan secara periodik dapat dilakukan untuk kepentingan mengubah dan memperbaiki cara belajar dan membelajarkan materi kepada peserta didik. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, dengan mengedepankan peserta didik aktif.

 

Pembelajaran dimaksud diharapkan yang memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.

 

Kualitas pendidikan sangatlah bergantung pada kesadaran, pengertian, komitmen, dan partisipasi serta dedikasi dari para pendidik dan tenaga kependidikan, terutama guru sebagai ujung tombak yang secara langsung menghadapi peserta didik. Apabila guru dapat menciptakan proses pembelajaran yang dapat mengubah hasil belajar peserta didik, dan dapat meningkatkan motivasi belajar, yang dapat meningkatkan rasa percaya diri peserta didik, dapat meningkatkan harga diri dengan menerapkan berbagai strategi dan model pembelajaran, maka visi dan misi guru sebagai pembelajar boleh dikatakan berhasil.

 

Proses pembelajaran merupakan fenomena yang kompleks. Guru lebih banyak berhubungan dengan pola pikir peserta didik di mana setiap peserta didik – siapa pun, dimana pun – memiliki setumpuk kata, pikiran, tindakan yang dapat mengubah lingkungan baik di keluarga, di sekolah maupun di masyarakat.

Mulai tahun ajaran baru 2013 pola pembelajaran segera disosialisasikan bagi guru kelas I sampai dengan kelas VI, menggunakan Pembelajaran Tematik Terpadu. Di lapangan begitu beragam nuansa tematik ini sejak digulirkan di kalangan guru, dan sekolah, sepertinya terjadi suatu “kerancuan”, dan perbedaan pemahaman. Guru banyak yang berpikir dan bertanya-tanya, apakah selama ini cara pembelajaran yang dirasakanya sudah menghasilkan lulusan peserta didik “berprestasi”, dan sudah mencetak serta menghasilkan dokter, insinyur, birokrat dianggap kurang berhasil?. Sehingga ada ungkapan bahwa “saya sudah mengajar puluhan tahun, dan saya sudah mempunyai alumni yang berhasil menjadi pejabat, menjadi dokter, menjadi insinyur dan sebagainya dianggap tidak berhasil?. Pemikiran-pemikiran semacam ini akan menjadi penghambat bagi bergulirnya sebuah inovasi dalam bidang pendidikan.

 

Pembelajaran dengan menggunakan berbagai pendekatan, strategi dan metode diharapkan dapat memberi kemungkinan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.

 

Pembelajaran yang diciptakan baik di kelas maupun di luar kelas diharapkan dapat dikondisikan dalam suasana hubungan peserta didik dan guru yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan). Terlebih bagi peserta didik SD yang masih berada di Kelas 1, 2 dan 3, yang masih memerlukan bimbingan, dan perhatian, sebagaimana pelayanan para orang tua yang dengan kasih sayang membimbing mereka. Sedangkan di Kelas 4, 5, dan 6 mulai ditingkatkan pemahaman peserta didik untuk lebih memahami hidup dan kehidupan di lingkungan sekitar dengan menciptakan pola berpikir rasional. Mencari jawaban mengapa harus belajar membaca dan menulis? Mengapa harus belajar matematika, mengapa harus berinterakti dan saling berkomunikasi dengan teman dan sebagainya. Dengan pembelajaran tematik Terpadu diharapkan dapat menjawab ke semuanya itu dengan catatan guru dan peserta didik memiliki komitmen dan selalu berpikir positif bahwa pola pembelajaran yang dilakukan adalah menuju ketercapaian kompetensi sebagaimana yang dituangkan di dalam standar kelulusan.

Pelaksanaan pembelajaran seyogyanya dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang. Jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan). Sebuah model pembelajaran diharapkan dapat dipergunakan sebagai wawasan untuk disesuaikan dengan kondisi peserta didik di masing-masing sekolah.

 

Peserta didik perlu dipersiapkan baik secara internal maupun eksternal, baik ketika di dalam kelas maupun di luar kelas. Terlebih bagi peserta didik yang masih berada di SD tentu saja tidak dapat disamakan pelayannya dengan peserta didik yang ada di kelas menengah. Namun demikian baik peserta didik di kelas 1 sampai dengan kelas 6 di kondisikan menggunakan pendekatan tematik Terpadu dengan tema sebagai pemersatunya.

 

Gugus SD Kanggraksan merupakan beberapa SD yang tergabung dalam satu gugus inti yaitu SDN Kanggraksan I, SDN Kanggraksan II dan SDN Kanggraksan III. Tiga sekolah tersebut merupakan sekolah unggulan yang pada tahun ini direncanakan akan menerapkan Integrated Thematic Instruction (ITI)/Tematik Terpadu, hanya saja minimnya informasi terkait konsep yang melandasi pembelajaran ini, Integrated Thematic Instruction (ITI)/Tematik Terpadu menjadikan kegiatan implementasi inovasi berupa inhouse training ini begitu penting dilakukan dan merupakan kegiatan yang pantas diselenggarakan untuk guru-guru yang jumlahnya sekitar 40 orang.

 

B.             Perumusan Masalah

Dari uraian di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan mendasari upaya peningkatan keterampilan guru dalam implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI) di SD Gugus Kanggraksan Kota Cirebon yaitu:

 

  1. Bagaimana proses pengembangan Rencana Pembelajaran dalam implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI)?
  2. Bagaimana proses Integrated Thematic Instruction (ITI)?
  3. Bagaimana penilaian pembelajaran dalam implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI)?

 

Bertolak dari dari perumusan masalah tersebut, kiranya perlu dikembangkan satu bentuk kegiatan menjawab kebutuhan mereka dari segi implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI), dalam bentuk inhouse training.

 

C.          Tujuan Kegiatan

Tujuan dari kegiatan ini adalah:

  1. Melalui inhouse training, guru-guru SD gugus Kanggraksan memiliki keterampilan menyusun rencana pembelajaran dalam implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI)

 

  1. Melalui inhouse training, guru-guru SD gugus Kanggraksan memiliki keterampilan melaksanakan pembelajaran menggunakan pendekatan Integrated Thematic Instruction (ITI)

 

  1. Melalui inhouse training, guru-guru SD gugus Kanggraksan memiliki keterampilan melakukan evaluasi proses pembelajaran Integrated Thematic Instruction (ITI)

 

D.           Manfaat Kegiatan

Adapun manfaat yang diharapkan dari inhouse training implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI) ini adalah:

 

  1. Meningkatkan keterampilan guru dalam membuat perencanaan pembelajaran menggunakan pendekatan Integrated Thematic Instruction (ITI)
  2. Meningkatkan pemahaman guru dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan pendekatan Integrated Thematic Instruction (ITI)
  3. Meningkatkan pemahaman guru dalam melakukan evaluasi proses pembelajaran Integrated Thematic Instruction (ITI)

 

E.              Sasaran

Sasaran kegiatan ini adalah adalah guru-guru se-gugus Kanggraksan. Yang terdiri dari:

 

  • SDN Kanggraksan I
  • SDN Kanggraksan II
  • SDN Kanggraksan III

 

Mengenai sasaran sekolah yang dijadikan target kegiatan kegiatan ini sebelumnya telah dilakukan identifikasi kebutuhan terhadap guru-guru dan beberapa sekolah di Kabupaten dan Kota di Jawa Barat.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. Pengertian Integrated Thematic Instruction (ITI)/Pembelajaran Tematik Terpadu

Integrated Thematic Instruction (ITI)/Pembelajaran Tematik Terpadu dilaksanakan dengan menggunakan prinsip pembelajaran terpadu. Pembelajaran terpadu menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran yang memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali tatap muka, untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik. Karena peserta didik dalam memahami berbagai konsep yang mereka pelajari selalu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dikuasainya.

 

Pelaksanaan pembelajaran Tematik Terpadu/ Integrated Thematic Instruction (ITI) berawal dari tema yang telah dipilih/dikembangkan oleh guru yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Jika dibandingkan dengan pembelajaran konvensional pembelajaran tematik ini tampak lebih menekankan pada Tema sebagai pemersatu berbagai mata pelajaran yang lebih diutamakan pada makna belajar, dan keterkaitan berbagai konsep mata pelajaran. Keterlibatan peserta didik dalam belajar lebih diprioritaskan dan pembelajaran yang bertujuan mengaktifkan peserta didik, memberikan pengalaman langsung serta tidak tampak adanya pemisahan antar mata pelajaran satu dengan lainnya.

 

  1. Fungsi dan Tujuan

Pembelajaran tematik/Integrated Thematic Instruction (ITI) terpadu berfungsi untuk memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam memahami dan mendalami konsep materi yang tergabung dalam tema serta dapat menambah semangat belajar, karena materi yang dipelajari merupakan materi yang nyata (kontekstual) dan bermakna bagi peserta didik (Sriwilujeng, 2006:56).

 

Tujuan pembelajaran tematik terpadu adalah:

  • Memusatkan perhatian pada satu tema atau topik tertentu
  • Mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi mata pelajaran dalam tema yang sama
  • Memiliki pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan
  • Mengembangkan kompetensi berbahasa lebih baik dengan mengkaitkan berbagai mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik
  • Lebih bergairah belajar karena mereka dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, seperti: bercerita, bertanya, menulis sekaligus mempelajari pelajaran yang lain.
  • Lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi yang disajikan dalam konteks tema yang jelas
  • Guru dapat menghemat waktu, karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2 atau 3 pertemuan bahkan lebih dan atau pengayaan.
  • Budi pekerti dan moral peserta didik dapat ditumbuh kembangkan dengan mengangkat sejumlah nilai budi pekerti sesuai dengan situasi dan kondisi.

 

  1. Ciri-ciri Pembelajaran Tematik Terpadu
  • Berpusat pada anak
  • Memberikan pengalaman langsung pada anak
  • Pemisahan antara mata pelajaran tidak begitu jelas (menyatu dalam satu pemahaman dalam kegiatan)
  • Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam satu proses pembelajaran (saling terkait antara mata pelajaran yang satu dengan lainnya)
  • Bersifat luwes (keterpaduan berbagai mata pelajaran)
  • Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak (melalui penilaian proses dan hasil belajarnya)

 

  1. Kekuatan Tema dalam Proses Pembelajaran

Anak pada usia SD berada pada tahapan operasi konkret, mulai menunjukkan perilaku yang mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, mulai berpikir secara operasional, mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat. Oleh karena itu pembelajaran yang tepat adalah dengan mengaitkan konsep materi pelajarn dalam satu kesatuan yang dipusat pada tema adalah yang paling sesuai. Dan kegiatan pembelajaran akan bermakna jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman, bersifat individual dan kontekstual, anak mengalami langsung yang dipelajarinya, hal ini akan diperoleh melalui pembelajaran tematik. Pembelajaran yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Dari penjelasan di atas maka pembelajaran tematik memiliki beberapa kekuatan dan keuntungan antara lain:

 

  • Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak
  • Menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan anak
  • Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna
  • mengembangkan keterampilan berpikir anak sesuai dengan permasalah an yang dihadapi
  • Menumbuhkan keterampilan sosial dalam bekerja sama
  • Memiliki sikap toleransi, komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain, dalam arti respek terhadap gagasan orang lain.
  • Menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalah an yang sering ditemui dalam lingkungan anak.

 

  1. Peran Tema dalam Proses Pembelajaran

Tema berperan sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran, dengan memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus. Adapun mata pelajaran yang dipadukan adalah mata pelajaran Agama (Akhlak Mulia/Budi Pekerti/tata krama), PPKn dan Kepribadian, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (terdiri atas: Bahasa Indonesia, IPS, IPA, Matematika), Estetika (Seni Budaya-Keterampilan) dan Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan.

 

Di dalam struktur Kurikulum Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah disebutkan bahwa untuk peserta didik kelas 1, sampai dengan kelas 6 penyajian pembelajarannya menggunakan pendekatan tematik. Penyajian pembelajaran dengan alokasi waktu komulatif 30 JP per minggu.

 

Pembuatan tema diharapkan memperhatikan kondisi peserta didik, lingkungan sekitar dan kompetensi guru dengan prosentase penyajian disesuaikan dengan aloasi waktu yang tersedia. Guru dalam penyajian diharapkan tidak terkonsentrasi pada salah satu mata pelajaran, melainkan harus tetap memperhatikan prosentase penyajianya. Namun demikian penjadwalan dalam hal ini tidak terbagi secara kaku melainkan diatur secara luwes.

 

Mata Pelajaran Agama yang disajikan secara terpadu adalah yang sifatnya budi pekerti luhur, akhlak mulia dan tata krama serta bagaimana bersopan santun dalam pergaulan di dalam keluarga dan masyarakat, keterkaitan dengan pendidikan karakter bangsa. Sedangkan untuk materi-materi yang sifatnya aqidah dan khusus keagamaannya sisajikan oleh guru agama sendiri.

Demikian juga untuk Pendidikan Jasmani dan kesehatan, yang sifatnya gerakan ringan yang dapat disajikan di dalam kelas, bisa dilakukan oleh guru kelas. Sedangkan yang sifatnya gerakan olah raga yang memerlukan fisik, gerakan bebas, tetap dilakukan oleh guru olah raga dan dilaksanakan di luar kelas/ lapangan olah raga.

 

Pembelajaran tematik diawali dengan pembuatan tema selama satu tahun, kemudian dengan tema-tema yang telah dibuat tersebut, guru menganalisis semua standar kompetensi lulusan yang diturunkan ke dalam kompetensi inti dan selanjutnya mengalir ke kompetensi dasar dan membuat indikator dari masing-masing mata pelajaran yang ada di setiap kelas. Setelah itu dibuat hubungan antara KD dan indikator dengan tema yang telah disiapkan selama satu tahun. Berikutnya dari pemetaan hubungan tersebut dilanjutkan dengan membuat jaringan KD & indikator dari setiap tema yang telah dibuat. Setelah jadi semua jaringan selama satu tahun dilanjutkan dengan menyusun silabus tematik dan yang terakhir menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik.

 

  1. Model Pembelajaran Tematik Terpadu Integrated Thematic Instruction (ITI)

Model pembelajaran Integrated Thematic Instruction (ITI)/tematik integratif melalui beberapa tahapan yaitu pertama guru harus mengacu pada tema sebagai pemersatu berbagai mata pelajaran untuk satu tahun. Kedua guru melakukan analisis standar kompetensi lulusan, kompetensi inti, kompetensi dasar dan membuat indikator dengan tetap memperhatikan muatan materi dari Standar Isi, ketiga membuat hubungan antara kompetensi dasar, indikator dengan tema, keempat membuat jaringan KD, indikator, kelima menyusun silabus tematik dan keenam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran tematik dengan mengkondisikan pembelajaran yang menggunakan pendekatan scientific.

 

  1. Kriteria Pemilihan Tema

Penulisan daftar tema dimaksud bukanlah urutan penyajajian Guru diharapkan dapat dengan cerdas dan tepat melakukan pemilihan tema mana yang akan dibelajarkan terlebih dahulu, seyogyanya penetapan tema sesuai dengan kondisi daerah, sekolah, peserta didik, dan guru di wilayahnya. Penentuan dan pemilihan tema yang akan dikembangkan di SDdapat mempertimbangkan kriteria pembuatan tema sebagai berikut (Sriwilujeng, 2006: 56):

  • Tema tidak terlalu luas namun dapat dengan mudah dipergunakan untuk memadukan banyak mata pelajaran
  • Tema bermakna, artinya bahwa tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi peserta didik untuk belajar selanjutnya
  • Harus sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis anak
  • Tema yang dikembangkan harus mampu mewadahi sebagian besar minat anak di sekolah
  • Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar
  • Mempertimbangkan dilanjutkan kan kurikulum yang berlaku dan harapan masyarakat terhadap hasil belajar peserta didik
  • Mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar


BAB III

LANGKAH IMPLEMENTASI DI SEKOLAH

 

  1. Sosialisasi pada Masyarakat Lingkungan Sekolah

Gugus SD Kanggraksan merupakan beberapa SD yang tergabung dalam satu gugus inti yaitu SDN Kanggraksan I, SDN Kanggraksan II dan SDN Kanggraksan III. Tiga sekolah tersebut merupakan sekolah unggulan, hanya saja minimnya informasi terkait konsep yang melandasi pembelajaran Integrated Thematic Instruction (ITI)/Tematik Terpadu sehingga sosialisasi pada lingkungan sekolah tentang kegiatan ini menjadikan kegiatan implementasi inovasi berupa inhouse training ini begitu penting dilakukan dan merupakan kegiatan yang pantas diselenggarakan untuk guru-guru yang jumlahnya sekitar 40 orang.

 

  1. Persiapan Akademik
  • Mencari ciri-ciri inovasi yang akan diterapkan, sumber, bahan, pelatihan

Beberapa permasalahan mendasari upaya peningkatan keterampilan guru dalam implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI) di SD Gugus Kanggraksan Kota Cirebon yaitu:

  • Pengembangan Rencana Pembelajaran dalam implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI)
  • Proses Integrated Thematic Instruction (ITI)
  • Penilaian pembelajaran dalam implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI)
  • Merencanakan tahapan implementasi inovasi

Kegitan inhouse training implementasi inovasi ini menggunakan berbagai metode yang digunakan sebagai berikut.

  • Workshop/demontrasi
  • Tanya Jawab
  • Diskusi
  • Simulasi

 

  • Menyeleksi guru yang pertama akan menerapkan, dimana pelatihan dan berapa lama

Sasaran kegiatan ini adalah guru-guru SD Gugus Kanggraksan Kota Cirebon. Adapun alasan pemilihan sekolah tersebut dikarenakan akses yang strategis, kebutuhan akan materi dan ketersediaan fasilitas yang mendukung proses pelaksanaan workshop baik sarana maupun prasarana.

  • Mengajukan permohonan kesiapan untuk inovasi
  • Sosialisasi ke guru, TU, komite sekolah, orang tua siswa

 

  1. Persiapan Administrasi Implementasi Inovasi di Sekolah
  • Menugaskan kasi kurikulum, TU membuat jadwal tahapan implementasi di Sekolah
  • Identifikasi adanya perubahan tugas yang ada diantara staf TU dalam persiapan implementasi inovasi di sekolah
  • Membuat rincian perubahan tugas dalam implementasi inovasi

Identifikasi fasilitas yang diperlukan untuk menunjang dan memback-up implementasi inovasi

  • Identifikasi jumlah guru per tahap yang akan dilatih implementasi inovasi
  • Mengajukan proposal pelatihan untuk penerapan dan pelaksanaan implementasi inovasi yang mencakup:

Realisasi pemecahan masalah dilaksanakan dalam bentuk Inhouse training berupa workshop yang ditujukan kepada Guru-Guru-guru SD Gugus Kanggraksan Kota Cirebon yang berlangsung selama 2 bulan. Pemecahan masalah dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

  • Penyajian makalah dan workshop tentang pengembangan Rencana Pembelajaran dalam implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI)
  • Penyajian makalah dan workshop tentang implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI)
  • Penyajian makalah dan workshop Penilaian pembelajaran dalam implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI)
  • Memberikan penilaian terhadap RPP dan instrumen evaluasi yang sudah dikembangkan setelah proses workshop untuk mengetahui kemampuan peserta.

Kegiatan implementasi inovasi ini dilakukan selama 4 bulan Juli-Oktober tahun 2014. Kegiatan kegiatan ini dimulai dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengembangan hingga kegiatan evaluasi hasil, dengan rincian sebagai berikut:

Tabel

Jadwal Pelaksanaan

 

Kegiatan Juni Juli Agustus September Oktober
Pertemuan dengan pihak terkait
Identifikasi kebutuhan pembelajaran
Inhouse training I Implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI)
Inhouse training II Pembuatan Perencanaan Pembelajaran pada

Integrated Thematic Instruction (ITI)

Inhouse training III

Simulasi Proses dan Evaluasi Proses implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI)

Menyusun Laporan hasil implementasi inovasi

 


Penerapan Kegiatan

 

Action Steps

Tahap

 

Timeline

Hari

 

 

Resources

Bahan & Alat

Potential Barriers

Pihak yang Terlibat

Communi-cations Plan

Metode

Tujuan I:

Inhouse training I Konsep dasar dan Implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI)

Hari I

 

Handout Pelatihan

Buku Guru

Buku siswa

 

·      Instruktur

·      Guru

·      Fasilitator

 

Tutorial

Diskusi

Tujuan II:

Inhouse training II Pembuatan Perencanaan Pembelajaran pada

Integrated Thematic Instruction (ITI)

Hari II

 

Handout Pelatihan

Buku Guru

Buku siswa

RPP

·      Instruktur

·      Guru

·      Fasilitator

 

Tutorial

Bimbingan

Tujuan III:

Inhouse training III

Simulasi Proses dan Evaluasi Proses implementasi Integrated Thematic Instruction (ITI)

Hari III

 

Handout Pelatihan

Buku Guru

Buku siswa

Instrumen Penilaian

·      Instruktur

·      Guru

·      Fasilitator

 

Tutorial

Bimbingan


 

  • Mengajukan proposal evaluasi penerapan implementasi inovasi yang mencakup: inhouse training ini dikatakan berhasil jika minimal 60% dari jumlah peserta pelatihan memperoleh nilai minimum 60. Nilai para peserta pelatihan yang diperoleh akan diinterpretasikan tingkat keberhasilannya seperti dalam tabel berikut ini.

Tabel Interpretasi Keberhasilan Inhouse Training

No. Nilai Interpretasi Keberhasilan
1 80 – 100 Baik Sekali
2 70 – 79 Baik
3 60 – 69 Cukup
4 < 59 Kurang

Evaluasi dilakukan terhadap naskah dan produk RPP dan instrumen evaluasi pembelajaran tematik terpadu/ Integrated Thematic Instruction (ITI) dikembangkan guru-guru SD Gugus Kanggraksan Kota Cirebon untuk melihat sejauh mana penguasaan akan materi yang disampaikan.

 

  • Memperkirakan dan merinci anggaran biaya yang diperlukan untuk persiapan dan implementasi inovasi pendidikan di sekolahnya

 

  1. Implementasi Inovasi di Kelas
  • Guru SD Kanggraksan membuat rancangan tindakan implementasi inovasi di kelas
  • Guru SD Kanggraksan inventarisasi fasilitas yang diperlukan untuk implementasi inovasi di kelas
  • Guru SD Kanggraksan inventarisasi bagian-bagian dari inovasi yang harus diimplementasi yang terasa masih belum dikuasai sesudah kembali dari pelatihan
  • Kepala sekolah SD Kanggraksan mendata kesulitan implementasi inovasi yang dialami guru dan mengusahakan mendapat bantuan teknis untuk mengatasi masalah tersebut bila ia sendiri merasa tidak menguasai masalah tersebut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s