TEORI BELAJAR HUMANISTIK

Picture18

Oleh: Cecep Kustandi

cecepkustandi@yahoo.com

 

  1. Teori Humanistik

Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.

Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah :

  1. Proses pemerolehan informasi baru,
  2. Personalia informasi ini pada individu.

Bagi penganut teori humanistik, proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia. Dari teori-teori belajar, seperti behavioristic, kognitif dan konstruktivistik, teori inilah yang paling abstrak, yang paling mendekati dunia filsafat daripada dunia pendidikan. Pada kenyataannya, teori ini lebih berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuk yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada gagasan tentang belajar dalam bentuknya yang paling ideal daripada belajar seperti apa yang diamati dalam dunia keseharian. Karena itu, teori ini bersifat elektrik, artinya teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuannya untuk ‘memanusiakan manusia’ (mencapai aktualisasi diri) dapat tercapai. Sebagai contoh, teori belajar bermakna Ausubel (meaningful learning) dan Taksonomi Tujuh Belajar Bloom dan Krathwohl diusulkan sebagai pendekatan yang dapat dipakai oleh aliran humanistik (padahal teori-teori tersebut juga dimasukkan dalam aliran kognitif).

Psikologi humanistik atau disebut juga dengan nama psikologi kemanusiaan adalah suatu pendekatan yang multifaset terhadap pengalaman dan tingkah laku manusia, yang memusatkan perhatian pada keunikan dan aktualisasi diri manusia. Bagi sejumlah ahli psikologi humanistik ia adalah alternatif, sedangkan bagi sejumlah ahli psikologi humanistik yang lainnya merupakan pelengkap bagi penekanan tradisional behaviorisme dan psikoanalis.

Psikologi humanistik juga memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistik.

Perhatian Psikologi Humanistik yang utama tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Menurut para pendidik aliran humanistik, penyusunan dan penyajian materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa.

Aliran humanistik menggugah para psikolog untuk menyadari arti penting ketubutuhan psikologis manusia yang sangat mendasar seperti kebutuhan-kebutuhan kasih sayang,cinta,harga diri,pengakuan dari orang lain rasa memiliki, menyatakan diri/pemunculan diri,dan lain sebagainya, semua kebutuhan itu sama pentingnya dengan kebutuhan biologis manusia seperti makan dan minum.

Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya isi dari proses belajar,dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain teori ini lebih tertarik kepada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya,seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian. Wajar jika teori ini sangat bersifat eklektika. Teori apa pun dapat dimanfaat ka nasal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya itu) dapat tercapai.

Empat pakar lain yang termasuk ilmuan humanistic adalah Kolb, Honey, Mumord, Hubermas dan Carl Rogers.

  1. Bloom dan Krathwohl

Bloom dan Krathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai oleh siswa tercangkup dalam tiga kawasan, yaitu kawasan kognitif, afektif dan psikomotor.

  1. Kolb

Kolb membagi tahapan belajar menjadi empat tahapan yaitu

  1. Pengalaman Kongkret : pada tahap dini, seorang siswa hanya mampu sekedar ikut mengalami suatu kejadian, ia belum mengerti bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus seperti itu.
  2. Pengalaman aktif dan reflektif : siswa lambat laun mampu mengadakan pengamatan aktif terhadap kejadian itu, serta mulai berusaha memikirkan dan memahaminya.
  3. Konseptualisasi : siswa mulai membuat abstrak atau teori tentang hal yang pernah diamatinya. Pada tahap ini siswa diharapkan sudah mampu untuk membuat aturan umum dari berbagai contoh kejadian yang meskipun tampak berbeda-beda tetapi mempunyai landasan aturan yang sama.
  4. Eksperimentasi aktif : pada tahap ini siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke situasi yang baru.
  5. Honey dan Mumford

Honey dan Mumford menggolongkan siswa atas empat tipe, yaitu

  1. Siswa tipe aktivis : mereka cenderung melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru, cenderung berpikiran terbuka dan mudah diajak berdialog, namun biasanya kurang skeptic terhadap sesuatu, atau identic dengan sikapmudah percaya. Mereka menyukai metode yang mampu mendorong menemukan hal-hal baru, seperti brainstorming dan problem solving.
  2. Siswa tipe reflektor : cenderung sangat berhati-hati mengambil langkah. Dalam proses pengambilan keputusan cenderung konservatif, dalam arti suka menimbang-nimbang secara cermat baik-buruknya suatu keputusan.
  3. Siswa tipe teoritis : biasanya sangat kritis, senang menganalisis dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subyektif. Bagi mereka, berpikir rasional adalah sesuatu yang sangat penting. Mereka juga sangat skeptif dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif.
  4. Siswa tipe pragmatis : menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dalam segala hal, mereka tidak suka bertele-tele membahas aspek teoretis-filosofis dari sesuatu. Bagi mereka, sesuatu dikatakan ada gunanya dan baik jika bisa dipraktikkan.
  5. Habermas

Habermas membagi tiga macam tipe belajar, yaitu

  1. Teaching Learning (belajar teknis) : siswa belajar berinteraksi dengan alam sekelilingnya, mereka berusaha menguasai dan mengelola alam dengan mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk itu.
  2. Practical learning (belajar praktis) : pada tahap ini, siswa berinteraksi dengan orang-orang disekelilingnya.
  3. Emancipatory learning (belajar emansipatori) : siswa berusaha mencapai pemahaman dan kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahan kultural dari suatu lingkungan.
  4. Carl Rogers

Carl Rogers mengemukakan bahwa siswa yang belajar hendaknya tidak dipaksa, melainkan dibiarkan belajar bebas, siswa diharapkan dapat mengambil keputusan sendiri dan berani bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang diambilnya. Dalam konteks tersebut, Rogers mengemukakan lima hal penting dalam proses belajar humanistik, yaitu sebagai berikut.

  1. Hasrat untuk belajar : hasrat untuk belajar disebabkan adanya hasrat ingin tahu manusia yang terus menerus terhadap dunia sekelilingnya.
  2. Belajar bermakna : seseorang yang beraktivitas akan selalu menimbang-nimbang apakah aktivitas tersebut mempunyai makna bagi dirinya.
  3. Belajar tanpa hukuman: belajar yang terbebas dari ancaman hukuman mengakibatkan anak bebas melakukan apa saja, mengadakan eksperimentasi hingga menemukan sendiri sesuatu yang baru.
  4. Belajar dengan inisiatif sendiri : menyiratkan tingginya motivasi internal yang dimiliki. Siswa yang banyak berinisiatif, mampu mengarahkan dirinya sendiri, menentukan pilihannya sendiri serta berusaha menimbang sendiri hal yang baik bagi dirinya.
  5. Belajar dan perubahan : dunia terus berubah, karena itu siswa harus belajar untuk dapat menghadapi kondisi dan situasi yang terus berubah. Dengan demikian belajar yang hanya sekedar mengingat fakta atau menghafal sesuatu dipandang tak cukup.
  6. Teori Maslow

Teori Maslow yang sangat terkenal adalah kebutuhan . kebutuhan pada diri manusia selalu menuntut pemenuhan, dimulai dari tahapan yang paling dasar secara hierarkis menuju kepada kebutuhan yang paling tinggi, tahapan- tahapan kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Physiological needs : kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan akan makan dan minum, pakaian dan tempat tinggal, termasuk juga kebutuhan biologis. Disebut sebagai kebutuhan paling dasar karena dibutuhkan semua makhluk hidup, termasuk manusia.
  2. Safety/security needs : kebutuhan akan rasa aman secara fisik dan psikis. Aman secara fisik, seperti terhindar dari gangguan kriminalitas, teroris, binatang buas, orang lain,, tempat yang tidak aman dan sebagainya.
  3. Social needs : kebutuhan social dibutuhkan manusia agar ia dianggap sebagai warga komunitas sosialnya. Bagi siswa agar dapat belajar dengan baik, ia harus merasa diterima dengan baik oleh teman-temannya.
  4. Esteem needs : kebutuhan ego termasuk keinginan untuk berprestasi dan memiliki prestise. Seseorang membutuhkan kepercayaan dan tanggung jawab dari orang lain. Dalam pembelajaran, dengan diberikan tugas-tugas yang menantang, maka siswa akan terpenuhi kebutuhan egonya.
  5. Self-actualization needs : kebutuhan aktualisasi adalah kebutuhan untuk membuktikan dan menunjukkan dirinya kepada orang lain. Pada tahap ini seseorang mengembangkan semaksimal mungkin potensi yang dimilikinya.
  6. Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa

Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.

Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.

Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :

  1. Merumuskan tujuan belajar yang jelas
  2. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
  3. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
  4. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
  5. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
  6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
  7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
  8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa

Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

Siregar, Eveline, dkk. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor : Ghalia Indonesia.

http://belajarpsikologi.com/macam-macam-metode-pembelajaran/

http://www.scribd.com/doc/89327309/TEORI-BELAJAR-HUMANISTIK

http://blog.tp.ac.id/teori-humanistik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s