PENILAIAN ACUAN PATOKAN DAN PENILAIAN ACUAN NORMA

IM_HALSEL_571Oleh: Cecep Kustandi

cecepkustandi@yahoo.com

Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Penilaian acuan patokan (criterion referenced test/objective referenced test/domain refereced test) mengukur tingkat pencapaian belajar siswa dengan patokan tertentu. Dalam hal ini, pencapaian terhadap tujuan pembelajaran khusus atau indicator pembelajaran. Skor yang dicapai siswa ditafsirkan sebagai tingkat penguasaannya terhadap perilaku dalam tujuan pembelajaran khusus yang akan diukur. Keberhasilan dalam prosedur acuan patokan tegantung pada penguasaaan materi atas kriteria yang telah dijabarkan dalam item-item pertanyaan guna mendukung tujuan instruksional.

Dengan PAP setiap individu dapat diketahui apa yang telah dan belum dikuasainya. Bimbingan individual untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dapat dirancang, demikian pula untuk memantapkan apa yang telah dikuasainya dapat dikembangkan. Guru dan setiap peserta didik (siswa) mendapat manfaat dari adanya PAP.

Melalui PAP berkembang upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melaksanakan tes awal (pre test) dan tes akhir (post test). Perbedaan hasil tes akhir dengan test awal merupakan petunjuk tentang kualitas proses pembelajaran.

Pembelajaran yang menuntut pencapaian kompetensi tertentu sebagaimana diharapkan dan termuat pada kurikulum saat ini, PAP merupakan cara pandang yang harus diterapkan.

PAP juga dapat digunakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kurang terkontrolnya penguasaan materi, terdapat siswa yang diuntungkan atau dirugikan, dan tidak dipenuhinya nilai-nilai kelompok berdistribusi normal. PAP ini menggunakan prinsip belajar tuntas (mastery learning).

Ciri-ciri penilaian acuan patokan adalah sebagai berikut  :

  1. Mengukur sejumlah besar perilaku khusus dalam jumlah terbatas dengan banyak butir tes untuk setiap perilaku.
  2. Menjelaskan perilaku yang dapat dan yang tidak dapat dilakukan oleh peserta tes.
  3. Mementingkan butir-butir tes relevan dengan perilaku yang akan diukur tanpa peduli dengan tingkat kesulitannya.
  4. Digunakan terutama untuk tes penguasaan
  5. Penafsiran hasil tes membutuhkan pendefinisian perilaku yang diukur secara jelas dan terbatas.

Penilaian Acuan Norma (PAN)

  1. Penilaian acuan norma (norm referenced test) disusun untuk menentukan kedudukan atau posisi seorang peserta tes di antara kelompoknya, bukan untuk menentukan tingkat penguasaan setiap peserta tes terhadap perilaku yang ada dalam tujuan pembelajaran khusus. Tes harus disusun untuk dapat membedakan antara peserta yang satu dengan peserta yang lain, antara peserta yang lebih pandai dan peserta yang kurang pandai. Butir tes harus dipilih dengan daya pembeda tertentu, yaitu butir tes yang hanya dapat dijawab benar  oleh seluruh atau sebagian besar siswa yang pandai dan tidak, atau hanya sebagian kecil siswa yang kurang pandai.

    Penilaian acuan norma (PAN) merupakan pendekatan klasik, karena tampilan pencapaian hasil belajar siswa pada suatu tes dibandingkan dengan penampilan siswa lain yang mengikuti tes yang sama. Pengukuran ini digunakan sebagai metode pengukuran yang menggunakan prinsip belajar kompetitif. Menurut prinsip pengukuran norma, tes baku pencapaian diadministrasi dan penampilan baku normative dikalkulasi untuk kelompok-kelompok pengambil tes yang bervariasi. Skor yang dihasilkan siswa dalam tes yang sama dibandingkan dengan hasil populasi atau hasil keseluruhan yang telah dibakukan. Guru kelas kemudian mengikuti asas yang sama, mengukur pencapaian hasil belajar siswa, dengan tepat membandingkan terhadap siswa lain dalam tes yang sama. Seperti evaluasi empiris, guru melakukan pengukuran, mengadministrasi tes, menghitung skor, merangking skor, dari tes yang tertinggi sampai yang terendah, menentukan skor rerata menentukan simpang baku dan variannya .

    Ciri-ciri dari penilaian acuan norma adalah sebagai berikut         :

    1. Mengukur sejumlah besar perilaku khusus dengan sedikit butir tes untuk setiap perilaku.
    2. Menekankan perbedaan diantara peserta tes dari segi tingkat pencapaian belajar secara relative.
    3. Butir-butir tes, mementingkan butir-butir tes yang mempunyai tingkat kesulitan sedang, membuang tes yang terlalu mudah dan terlalu sulit.
    4. Digunakan terutama untuk tes survey.
    5. Penafsiran hasil tes membutuhkan pendefinisian kelompok secara jelas.
    6. Perbedaan PAP dan PAN

    Penilaian acuan patokan dan penilaian acuan norma memiliki beberapa perbedaan, antara lain        :

    1. Penilaian acuan norma biasanya mengukur sejumlah besar perilaku khusus dengan sedikit butir tes untuk setiap perilaku. Penilaian acuan patokan biasanya mengukur perilaku khusus dalam jumlah yang terbatas dengan banyak butir tes untuk setiap perilaku.
    2. Penilaian acuan norma menekankan perbedaan di antara peserta tes dari segi tingkat pencapaian belajar secara relatif. Penilaian acuan patokan menekankan penjelasan tentang apa perilaku yang dapat dan yang tidak dapat dilakukan oleh setiap peserta tes.
    3. Penilaian acuan norma lebih mementingkan butir-butir tes yang mempunyai tingkat kesulitan sedang dan biasanya membuang tes yang terlalu mudah dan terlalu sulit. Penilaian acuan patokan mementingkan butir-butir tes yang relevan dengan perilaku yang akan diukur tanpa perduli dengan tingkat kesulitannya.
    4. Penilaian acuan norma digunakan terutama untuk survey. Penilaian acuan patokan digunakan terutama untuk penguasaan.
    5. Persamaan PAP dan PAN

    Penilaian acuan patokan dan penilaian acuan norma memiliki beberapa persamaan, antara lain       :

    1. Penilaian acuan norma dan acuan patokan memerlukan adanya tujuan evaluasi spesifik sebagai penentuan fokus item yang diperlukan. Tujuan tersebut termasuk tujuan intruksional umum dan tujuan intruksional khusus
    2. Kedua pengukuran memerlukan sample yang relevan, digunakan sebagai subjek yang hendak dijadikan sasaran evaluasi. Sample yang diukur mempresentasikan populasi siwa yang hendak menjadi target akhir pengambilan keputusan.
    3. Untuk mandapatkan informasi yang diinginkan tenyang siswa, kedua pengukuran sama-sama nenerlukan item-item yang disusun dalam satu tes dengan menggunakan aturan dasar penulisan instrument.
    4. Keduanya mempersyaratkan perumusan secara spesifik perilaku yang akan diukur.
    5. Keduanya menggunakan macam tes yang sama seperti tes subjektif, tes karangan, tes penampilan atau keterampilan.
    6. Keduanya dinilai kualitasnya dari segi validitas dan reliabilitasnya.
    7. Keduanya digunakan ke dalam pendidikan walaupun untuk maksud yang berbeda.

    DAFTAR PUSTAKA

    Sukardi. E, dan Maramis. W. F. 1986. Penilaian Keberhasilan Belajar. Jakarta: Erlangga:University Press

    Sirait, Bistok. 1985. Menyusun Tes Hasil Belajar. Semarang Press.

    Suparman, Atwi. 1997. Desain Instruksional. Jakarta: PAU.

    Dra.Siregar, Eveline,M.pd. Nara, Hartini,M.Si. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor : Ghalia Indonesia.

    sia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s