MULTIPLE INTELLEIGENCES (KECERDASAN MAJEMUK/JAMAK)

IM_PASER_470

Oleh: Cecep Kustandi

cecepkustandi@yahoo.com

 

  1. Pendekatan Multiple Intelleigences

Kecerdasan adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah atau menghasilkan suatu yang dibutuhkan didalam latar budaya tertentu. Pemahaman mengenai kecerdasan yang dimiliki manusia dalam konteks belajar merupakan suatu yang penting. Menurut Gardner intellegence ( kecerdasan ) diartikan sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang beragam dalam situasi yang nyata ( 1983,1993). Menurutnya, suatu kemampuan disebut intelegensia ( kecerdasan ) yaitu :

  1. Menunjukkan suatu kemahiran dan keterampilan seseorang dalam memecahkan persoalan dan kesulitan yang ditemukan dalam kehidupannya,
  2. Ada unsur pengetahuan dan keahlian,
  3. Bersifat universal harus berlaku bagi orang banyak,
  4. Kemampuan itu dasarnya adalah unsur biologis, yaitu karena otak seseorang, bukan sesuatu yang terjadi karena latihan atau training,
  5. Kemampuan itu sudah ada sejak lahir, meski didalam pendidikan dapat dikembangkan.

Menurut  penelitian (Howard Gardner) bahwa tidak ada satuan kegiatan manusia yang hanya menggunakan satu mcam kecerdasan, melainkan seluruh kecerdasan yang selama ini dianggap ada 7 macam kecerdasan, dan pada buku yang mutakhir ditambah 3 macam kecerdasan. Semua kecerdasan ini bekerjasama sebagai satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Komposisi keterpaduannya tentu saja berbeda-beda pada masing-masing orang dan budayanya. Namun secara keseluruhan semua kecerdasan dapat diubah dan ditingkatkan. Kecerdasan yang paling menonjol akan mengontrol kecerdasan-kecerdasan lainnya dalam memecahkan masalah.

Adapun pokok-pokok pikiran yang dikemukakan Gardner adalah;  1) Manusia memiliki kemampuan meningkatkan dan memperkuat kecerdasannya, 2) kecerdasan selain dapat berubah dapat juga diajarkan kepada orang lain, 3) kecerdasan merupakan realitas majemuk yang muncul dibagian-bagian yang berbeda pada sistem otak atau pikiran manusia, 4) pada tingkat tertentu, kecerdasan ini merupakan suatu kesatuan yang utuh, maknanya, dalam memecahkan masalah atau tugas tertentu, seluruh macam kecerdasan bekerja secara bersama-sama.

Gardner berpendapat bahwa kebudayaan kita telah terlalu banyak memusatkan perhatian pada pemikiran verbal dan logis, kemampuan yang secara tipikal dinilai dalam tes kecerdasan dan mengesampingkan pengetahuan lainnya. Ia menyatakan sekurang-kurangnya ada sembilan kecerdasan yang patut diperhitungkan secara sungguh-sungguh sebagai cara berpikir yang penting kesembilan keceerdasan tersebut adalag sebagai berikut.

  1. Kecerdasan linguistik

Kecerdasan linguistik merupakan kecerdasan dalam mengolah kata. Ini merupakan kecerdasan para jurnalis, juru cerita, penyair, dan pengacara. Orang yang cerdas dalam bidang ini dapat berargumentasi, meyakinkan orang, menghibur, atau mengajarkan dengan efektif lewat kata-kata yang diucapkannya.

  1. Kecerdasan Logis-matematis

Kecerdasan Logis-matematis adalah kecerdasan dalam hal angka dan logika. Ini merupakan kecerdasan para ilmuwan, akuntan, dan programer komputer. Ciri-ciri orang yang cerdas secara logis-matematis mencakup kemampuan penalaran, mengurutkan, berpikir dalam tentang sebab akibat, menciptakan hipnotis, mencari keteraturan konseptual atau pola numerik, dan pandangan hidupnya umumnya bersifat rasional.

  1. Kecerdasan Spasial

Kecerdasan spasial mencakup berpikir dalam gambar, serta kemampuan untuk mencerap, mengubah, dan menciptakan kembali berbagai macam aspek dunia visual-spasial. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan para arsitek, fotografer, artis, pilot, dan insinyur mesin. Orang dengan tingkat kecerdasan spasial yang tinggi hampir selalu mempunyai kepekaan yang tajam terhadap detail visual dan dapat menggambarkan sessuatu yang begitu hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas, serta dengan mudah menyesuaikan  orientasi dalam tiga dimensi.

  1. Kecerdasan musikal

Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk meserap, menghargai, dan mencuptakan irama melodi. Kecerdasan musikal juga dimiliki orang yang peka nada, dapat menyanyikan lagudengan tepat, dapat mengikuti irama musik, dapat mendengarkan berbagai karya dengan tingkat ketajaman tertentu.

  1. Kecerdasan Naturalis

Kecerdasan naturalis adalah kemampuan dan kepekaan terhadap alam sekitar. Kemampuan yang tinggi untuk membedakan berbagai jenis tumbuhan secara mendalam. Kemampuan untuk menghubungkan kecerdasan pelajaran dengan fenomena alam. Seseorang yang memiliki pembicaraan dengannya makin menarik dan kreatif jika dimulai dengan mengangkat tema tentang binatang dan alam. Bahkan membawa binatang atau tanaman tertentu didalam proses pembelajaran adalah hal yang disukainya. Kecerdasan yang tinggal di pedalaman mampu membedakan daun-daunan yang dapat dimakan, daun yang digunakan sebagai tanaman obat atau tanaman yang mengandung racun.

  1. Kecerdasan kinestetik-jasmani

Adalah kecerdasan fisik, kecerdasan ini mencakup bakat dalam mengendalikan gerak tubuh dan keterampilan dalam menangani benda. Atlet, pengrajin, montir, dan ahli bedah memunyai kecerdasan kinestetik-jasmani tingkat tinggi. Orang dengan kecerdasan fisik memiliki keterampilan dalam menjahit, bertukang, atau merakit model. Meraka juga menikmati kegiatan fisik, seperti berjalan kaki, menari, berlari, berkemah, berenang, atau berperahu. Mereka adalah orang diam, dan berminat atas segala sesuatu.

  1. Kecerdasan antarpribadi

Ini adalah kemampuan untuk memahami dan bekerja sama dengan orang lain. Kecerdasan ini terutama menuntut untuk menserap dan tanggap terhadap suasana hati, perangai, niat, dan hasrat orang lain. Pada tingkat yang lebih tinggi, kecenderungannya dan kemungkinan keputusan yang akan diambil. Profesional, guru, terapis, dan politis umumnya memiliki kecerdasan ini.

  1. Kecerdasan intrapribadi ( dalam diri sendiri )

Orang yang kecerdasan intrapribadinya sangat baik dapat dengan mudah mengakses perasaannya sendiri, membedakan berbagai macam keadaan emosi, dan menggunakan pemahamannya sendiri untuk memperkaya dan membimbing hidupnya. Contoh orang yang mempunyai kecerdasan ini, yaitu konselor, ahli teologi, dan wirausahawan. Mereka sangat mawas diri dan suka bermeditasi, berkontemplasi, atau bentuk lain penelusuran jiwa yang mendalam. Sebaliknya, mereka sangat mandiri, sangat terfokus pada tujuan, dan sangat disiplin. Secara garis besar, mereka merupakan orang yang gemar belajar sendiri dan lebih suka bekerja sendiri daripada bekerja dengan orang lain.

  1. Kecerdasan eksistensialisasi

Kecerdasan eksistensialisasi adalah kecerdasan yang cenderung memandang masalah-masalah dari sudut pandang yang lebih luas dan menyeluruh serta menyatakan “untuk apa” dan “apa dasar” dari segala sesuatu. Kecerdasan ini dapat sering dijumpai pada para filsuf. Mereka mampu menyadari dan menghayati dengan benar keberadaan dirinya disunia ini dan apa tujuan hidupnya.

Gardner menetapkan syarat khusus yang harus dipenuhi oleh setiap kecerdasan agar dapat dimasukkan kedalam teorinya. Empat diantaranya yaitu :

  1. Setiap kecerdasan dapat dilambangkan

Teori kecerdasan jamak menyatakan bahwa kemampuan untuk melambangkan atau melukiskan ide dan pengalaman melalui gambar, angka atau kata merupakan kecerdasan manusia.

  1. Setiap kecerdasan mempunyai riwayat perkembangan

Menurut teori kecerdasan jamak, setiap kecerdasan muncul pada titik tertentu dimasa kanak-kanak, mempunyai periode yang berpotensi untuk berkembang selama rentang hidup, dan berisikan pola unik dan secara perlahan atau cepat semakin merosot.

  1. Setiap kecerdasan rawan terhadap cacat akibat kerusakan atau cedera pada wilayah otak tertentu.

Teori kecerdasan jamak ( multiple intellegence ) meramalkan bahwa kecerdasan dapat terisolasi akibat kerusakan otak. Gardner menegaskan bahwa setiap teori kecerdasan baru dapat berlaku bila berdasarkan biologi, artinya berakar pada psikologi struktur otak.

  1. Setiap kecerdasan mempunyai keadaan akhir berdasarkan nilai budaya

Teori kecerdasan jamak menyatakan bahwa perilaku cerdas dapat ditinjau dari melihat prestasi tertinggi dalam peradaban bukan dengan mengumpulkan skor jawaban dari berbagai tes standar. Keterampilan tes IQ yang sering digunakan, seperti kemampuan untuk menyebutkan bilangan acak secara mundur atau maju, atau kemampuan menyelesaikan anologi, mempunyai nilai budaya yang terbatas. Teori kecerdasan ganda menyatakan bahwa kita dapat mempelajari makna menjadi cerdas dengan sangat baik dengan mempelajari contoh karya budaya yang paling sukses pada kedelapan bidang itu.

  1. Strategi Dasar Pembelajaran Kecerdasan Ganda

Ada beberapa strategi dasar dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangan kecerdasan ganda yaitu :

  1. Awakening intelligence ( Activating the senses and iurning on the brain ). Membangun/memicu kecerdasan, yaitu upaya untuk mengaktifkan indera dan menghidupkan kerja otak.
  2. Amplifying intelligence ( exercise and strengthening awakened capacities). Memperkuat kecerdasan, yaitu dengan cara memberi latihan dan memperkuat kemampuan membangun kecerdasan.
  3. Teaching for with intelligence ( structuring lesson for multiple intelligence ). Mengajarkan dengan/untuk kecerdasan, yaitu upaya-upaya membangun struktur pelajaran yang mengacu pada penggunaan kecerdasan ganda.
  4. Transferring intelligence ( multiple ways of knowing beyond the classroom ). Mentransfer kecerdasan, yaitu usaha untuk memanfaatkan berbagai cara yang telah dilatihkan dikelas untuk memahami realitas diluar kelas atau pada lingkungan nyata.

Didalam bukunya yang berjudul “seven ways of knowing beyond the calssroom” Lazear dengan lengkap menjelaskan cara pengolahan masing-masing kecerdasan dengan urutan seperti pada strategi dasar di atas.

  1. Kriteria Keabsahan Munculnya Teori Kecerdasan
  2. Memiliki dasar biologis

Kecenderungan untuk mengetahui dan memecahkan maslah merupakan sifat dasar biologis/fisiologis manusia. Misalnya, gerak tubuh berkomunikasi dengan orang lain, berimajinasi sendiri, menggunakan ritme dan suara, dan lain-lain. Kecenderungan-kecenderungan ini semua berakar pada sistem biologis manusia itu sendiri.

  1. Bersifat universal bagi spesies manusia

Setiap cara untuk memahami sesuatu selalu ada pada setiap budaya, tidak peduli kondisi sosio-ekonomi dan pendidikannya. Walaupun telah berkembang jenis keterampilan pada budaya yang berbeda, namun hadirnya kecerdasan adalah bersifat universal. Dengan kata lain, kecerdasan berakar pada keberadaan spesies manusia itu sendiri.

  1. Nilai budaya suatu keterampilan

Cara untuk memahami sesuatu didukung oleh budaya manusia dan merupakan hal yang harus diteruskan kepada generasi penerus. Contoh, pengembangan bahasa bisa berupa tulisan pada suatu budaya, hiroglif pada budaya lain, pesan-pesan lisan, nahasa-bahasa tanda, pada budaya lain pula. Namun bahasa formal, dinilai tinggi dan merupakan kriteria pendidikan dan sosial seseorang.

  1. Memiliki basis neurologi

Setiap kecerdasan memiliki bagian tertentu pada otak sebagai pusat kerjanya, dan yang dapat diaktifkan atau dipicu oleh informasi eksternal maupun internal.

  1. Dapat dinyatakan dalam bentuk simbol

Setiap kecerdasan dapat dinyatakan dalam bentuk simbol atau tanda-tanda tertentu. Misalnya simbol kata, gambar, musik, angka, dan lain sebagainya. Adanya simbol-simbol tersebut merupakan kunci bahwa kecerdasan dapat dialihkan atau diajarkan.

  1. Mengembangan kecerdasan ganda dalam kegiatan pembelajaran

Kecerdasan ganda sebenarnya merupakan teori yang bersifat filosofi. Hal ini tampak pada sikapnya terhadap belajar dan pandangannya terhadap pendidikan atau pembelajaran. Pendidikan atau pembelajaran ditinjau dari sudut pandang kecerdasan ganda lebih mengarah kepada hakekat dari pendidikan itu sendiri, yaitu yang secara langsung berhubungan dengan eksistensi, kebenaran, dan pengetahuan. Gambarnya pendidikan diwarnai oleh semangat Dewey yang berdasarkan diri pada pendidikan yang bersifat progresif.

Kategori-kategori yang banyak digunakan orang selama ini adalah kategori music, pengamatan ruang, dan body kinestik ( amstrong 1994 ). Hal yang baru ketika Gardner memasukan kategori-kategori itu semua kedalam pengertian kecerdasan dan bukannya talenta atau bakat. Gardner menyadari bahwa banyak orang telah terbiasa mengatakan atau mendengarkan ungkapan seperti “ia tidak begitu cerdas, tetapi ia memiliki bakat music yang sangat hebat”. Sebagaimana orang-orang mengatakan sesuatu adalah bakat, oleh Gardner bakat-bakat atau kategori-kategori tersebut dikatakan sebagai kecerdasan.

Untuk member dasar terhadap teori yang dikemukakannya, Gardner merancang dasar-dasar “tes” tertentu, dimana setiap kecerdasan harus dipertimbangkan sebagai intelegensi yang terlatih dan memiliki pengalaman, yang tidak disebut sebagai talenta atau bakat. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam teori kecerdasan ganda, yaitu 1). Setiap orang memiliki semua kecerdasan-kecerdasan itu; 2). Banyak orang yang dapat mengembangkan masing-masing kecerdasannya sampai ketingkat optimal; 3). Kecerdasan biasanya dapat bekerja bersama-sama dengan cara yang unik; 4). Ada banyak cara untuk menjadi cerdas.

Para pakar pendahulu mengatakan bahwa pikiran dipertimbangkan sebagai sesuatu yang ada pada jantung, hati dan batu ginjal. Pakar berikutnya beranggapan bahwa kecerdasan atau intelegensi terdiri dari beberapa factor. Teori kecerdasan ganda merupakan model kognitif yang menjelaskan bagaimana individu-individu menggunakan kecerdasannya untuk memecahkan masalah dan bagaimana hasilnya. Tidak seperti model-model lain yang berorientasi proses, pendekatan Gardner lebih berorientasi pada bagaimana pikiran manusia mengoprasi atau mengolah, menggunakan, menguasai lingkungan.

Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan ketika belajar akan menjadi activator bagi perkembangan kecerdasan pada tahap perkembangan berikutnya. Sedangkan pengalaman-pengalaman yang menakutkan, memalukan, menyebabkan marah, dan pengalaman emosi negatif akan menghambat perkembangan kecerdasan pada tahap perkembangan berikutnya.

Apabila ingin mengetahui arah kecerdasan siswa di kelas, dapat diketahui melalui indikator-indikator tertentu. Misalnya, apa yang dikerjakan siswa ketika mereka mempunyai waktu luang. Setiap guru dapat menggunakan catatan-catatan kecil praktis yang dapat digunakan untuk memantau kecenderungan perkembangan kecerdasan siswa dikelas. Guru juga dapat menyusun cheklis yang berisi tentang kecerdasan-kecerdasan tersebut. Cheklis dapat digunakan untuk memantau kecerdasan siswa. Selain cheklis ada cara lain yang dapat digunakan yaitu mengumpulkan berupa dokumen foto , rekaman-rekaman lain yang berhubungan dengan aktivitas siswa, dan catatan-catatan disekolah yang berhubungan dengan peringkat nilai semua mata pelajaran.

Kegiata-kegiatan yang dapat digunakan untuk mengembangkan kecerdasan ganda antara lain, dengan dengan menyediakan hari-hari karir, studi tour, biografi, pembelajaran terprogram, kegiatan kegiatan eksperimen, majalah dinding, papan display, mebaca buku-buku yang bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan ganda, membuat table perkembangan kecerdasan ganda, atau human intelligence hunt.

Setiap siswa  memiliki perbedaan kecenderungan dalam perkembangan kecerdasan gandanya, maka guru perlu menggunakan strategi umum maupun khusus dalam pembelajaran untuk mengembangkan seluruh kecerdasan siswa secara optimal. Teori ganda juga mengatakan bahwa tidak ada satupun pendekatan atau strategi yang cocok digunakan bagi semua siswa. Dalam hal pengukuran kecerdasan ganda lebih mengutamakan pada studi dokumentasi dan proses pemecahan masalah. Apabila kegiatan diatas dapat dilakukan maka keterampilan kognitif siswapun dapat berkembang dengan sendirinya.

Ada satu alternatif lain yang juga dapat digunakan dalam rangka memantau perkembangan kecerdasan siswa dikelas, yaitu dengan memberdayakan siswa sendiri. Artinya, checklist yang mencakup kecerdasan-kecerdasan tadi yang mengisi bukannya guru, tetapi pengisian dilakukan oleh para siswa. Kegiatan dikelas pada saat-saat tertentu adalah pengisian checklist tentang kecerdasan-kecerdasan masing-masing anak. Mereka saling memberikan penilaian antar teman, misalnya Ali melakukan pengamatan terhadap Budi, dan berdasarkan pengamatan Ali mengisi checklist tentang kecerdasan-kecerdasan apa yang dilakukan oleh budi. Demikian juga Budi melakukan hal yang sama seperti Ali terhadap anak lainnya, demikian seterusnya. Selain anak diberi kesempatan untuk menilai kecerdasan temannya, ia juga diberi kesempatan untuk self-monitoring, dengan cara mengisi checklist tentang kecerdasan-kecerdasan yang dimilikinya sendiri.

Perkembangan kecerdasan juga dapat dilakukan dengan teknik “konseling sebaya” / “tutor sebaya”. Caranya, guru menyeleksi siapakan yang memiliki keuggulan dalam bidang tertentu. Anak yang memiliki keunggulan dibidang matematika misalnya, diminta membimbing teman-temannya yang kurang dalam matematika demikian juga dalam bidang kecerdasan yang lainnya. Pembimbing didalam kelompok dapat bergantian tergantung pada kecerdasan apa yang akan dikembangkan. Misalnya, susi akan menjadi pembimbing untuk kecerdasan music, tetapi ia akan dibimbing oleh teman lainnya dalam kecerdasan matematika, dan seterusnya.

Pendekatan ini sangat tepat digunakan untuk SMP dan SMA, mengingat pada dasarnyamereka lebih suka berbicara dan bergaul dengan teman sebayanya dari pada dengan gurunya. Disamping itu, model konseling sebaya atau tutor sebaya dalam pembelajaran kecerdasan ganda memungkinkan berbagai aspek dalam diri anak dapat berkembang selaras dan optimal. Kelompok belajar dalam semacam ini sangat potensial untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. Guru dituntut untuk mampu mendeteksi anak-anak yang memiliki kecerdasan-kecerdasan unggul, dan membentuk kelompok-kelompok sesuai dengan kebutuhan.

Pendidikan/pembelajaran kecerdasan ganda berorientasi pada pengembangan potensi anak bukan berorientasi pada idealism guru atau orang tua apalagi ideologi politik. Anak berkembang agar mampu membuat penilaian dan keputusan sendiri secara tepat, bertanggungjawab, percaya diri, dan mandiri tidak bergantung pada orang lain, kreatif, mampu berkolaborasi, serta dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Keterampilan-keterampilan ini sangat dibutuhkan oleh manusia-manusia yang hidup di era ekonomi infortmasi abad global.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Budiningsih, C. Asri, 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT RINEKA CIPTA

Dra. Siregar, Eveline M.Pd & Nara, Hartini M.Si. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran.

Jakarta: Ghalia Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s