MOTIVASI ARCS

IM_HALSEL_191_1

Oleh: Cecep Kustandi

cecepkustandi@yahoo.com

 

  1. Model Motivasi ARCS

Model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction), dikembangkan oleh Keller dan Kopp (1987) sebagai jawaban pertanyaan bagaimana merancang pembelajaran yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi dan hasil belajar. Model pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan teori nilai harapan (expectancy value theory) yang mengandung dua komponen yaitu nilai (value) dari tujuan yang akan dicapai dan harapan (expectancy) agar berhasil mencapai tujuan itu. Dari dua komponen tersebut oleh Keller dikembangkan menjadi empat komponen. Keempat komponen model pembelajaran itu adalah attention, relevance, confidence dan satisfaction dengan akronim ARCS (Keller dan Kopp, 1987: 289-319).

Dalam proses belajar dan pembelajatran ke empat kondisi motivasional tersebut sangat peting dipraktekan untuk terus dijaga sehingga motivasi siswa terpelihara selama proses belajar dan pembelajaran berlangsung.

Attention (perhatian)

Muncul didorong rasa ingin tahu, rasa ingin tahu seseorang dirangsang melalui elemen-elemen yang baru, aneh, lain dengan yang sudah ada, kontradiktif atau kompleks. Ada beberapa strategi untuk merangsang minat dan perhatian, yakni :

Gunakan metode penyampaian yang bervariasi:

  • Gunakan media untuk m,elengkapi pembelajaran.
  • Gunakan humor dalam penyajian pembelajaran.
  • Gunakan peristiwa nyata, anekdot dan contok-contoh untuk memperjelas konsep yang diutarakan.
  • Dan gunakan tehnik bertanya melibatkan siswa.


 

Relevance (relevansi)

Menunjukan adanya hubungan materi pembelajaran dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Ada tiga strategi yang bisa digunakan untuk menunjukan relevansi dalam pembelajaran:

  • Sampaikan kepada siswa apa yang akan dapat mereka lakukan setelah mempelajari materi pembelajaran.
  • Jelaskan manfaat pengetahuan/keterampilan yang akan dipelajari.
  • Berikan contoh, latihan/tes yang langsung berhubungan dengan kondisi siswa atau profesi tetentu.

Condfidence (kepercayaan diri)

Merasa diri kompeten atau mampu merupakan potensi untuk dapat dengan lingkungan. Motivasi akan meningkatkan sejalan dengan meningkatnya harapan untuk berhasil. Ada sejumlah srategi untuk meningkatkan kepercayaan diri:

  • Meningkatkan harapan siswa untuk behasill dengan memperbanyak pengalaman berhasil.
  • Menyusun pembelajaran ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga siswa tidak dituntut mempelajari banyak konsep sekaligus.
  • Meningkatkan harapan untuk berhasil dengan menggunakan persyaratan untuk berhasil.
  • Menggunakan strategi yang memungkinkan kontrol keberhasilan ditangan siswa.
  • Tumbuh kembang kepercayaan diri siswa dengan pernyataan-oernyataan yang membangun.
  • Berikan umpan balik konstruktif selama pembelajaran, agar siswa mengetahui sejauh mana pemahaman dan prestasi belajar mereka.

Satisfaction (kepuasaan)

Keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan mengasilkan kepuasan, siswa aqkan termotivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan yang serupa, siswa akan termotivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan yang serupa.

Ada sejumlah strategi untuk mecapai kepuasan, yakni:

  • Gunakan pujian secara verbal, umpan balik yang informatif,bukan ancaman atau sejenisnya.
  • Berikan kesempatan kepada siswa untuk segera menggunakan/mempraktekan pengetahuan yang baru dipelajari.
  • Minta kepada siswa yang telah menguasai untuk membantu teman-temanya yang belum berhasil.
  • Bandingkan prestasi siswa dengan prestasinya sendiri dimasa lalu dengan suatu standar tertentu, bukan dengan siswa lain.
  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi

Menurut pendapat ali imron dalam buku belajar dan pembelajaran (1996) mengemukakan ada enam unsur atau faktor yang mempengaruhi motivasi dalam proses pembelajaran. Keenam faktor tersebut adalah :

(1)   Cita-cita/aspirasi pembelajaran.

(2)   Kemampuan pembelajaran.

(3)   Kondisi pemelajar.

(4)   Kondisi lingkungan pemelajar.

(5)   Unsur-unsur dinamis belajar/pembelajaran.

(6)   Upaya guru dalam membelajarkan pemelajaran.

Cita cita merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar. Hal ini bisa diamati dari banyaknya kenyataan motivasi seorang pemelajar menjadi begitu tinggi ketika ia sebelumnya sudah memiliki cita-cita implikasinya bisa terlihat dalam proses pembelajaran, misalnya seseorang yang memiliki cita-cita menjadi seorang dokter maka akan terlihat motivasi yang begitu kuat dari pemelajar ini untuk sungguh-sungguh belajar bahkan untuk menguasai lebih sempurna mata pelajaran-mata pelajaran yang berhubungan dengan kepentingannya untuk menjadi dokter. Begitu juga terjadi pada cita-cita yang lainnya.

Kemampuan pemelajar juga menjadi faktor penting dalam mempengruhi motivasi. Seperti bisa dipahami bersama bahwa setiap manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Karena itu sering terlihat seseorang memiliki kemampuan di bidang tertentu, belum tentu memiliki kemampuan di bidang lainnya. Kemampuan pemelajar juga demikian. Korelasinya dengan motivasi akan terliat ketika si pemelajar mengetahui bahwa kemampuannya ada pada bidang tertentu maka ia akan termotivasi dengan kuat untuk terus menguasi dan mengembangkan kemampuannya di bidang tersebut. Misalnya ia lebih mampu di bidang ekonomi maka motivasi untuk menguasai bidang ekonomi akan lebih besar.

Kondisi pemelajar juga menjadi faktor yang mempengaruhi motivasi. Hal ini bisa terliat dari kondisi fisik maupun kondisi psikis pemelajar. Pada kondisi fisik ada hubungannya dengan motivasi bisa dilihat dari keadaan fisik seseorang. Jika kondisi fisik sedang kelelahan maka akan cenderung memiliki motivasi yang tinggi. Selain kondisi pisikisnya sedang tidak bagus misalnya sedang stres maka motivasi juga akan menurun tetapi sebaliknya jika kondisi psikologis seseorang dalam keadaan bagus,gembira, atau menyenangkan maka kecenderungan motivasinya akan tinggi.

Kondisi lingkungan pemelajar menjadi faktor yang mempengaruhi motivasi bisa diamati dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial yang mengitari si pembelajar. Misalnya, lingkungan fisik yang tidak nyaman untuk belajar akan berdampak pada menurunnya motivasi belajar. Selain itu lingkungan sosial juga berpengaruh, hal ini bisa diamati dari lingkungan sosial yang ada disekitar pembelajar seperti teman sepermainannya, lingkungan keluarganya, atau teman sekelasnya. Lingkungan sosial yang tidak menunjukan kebiasaan belajar dan mendukung kegiatan belajar akan berpengaruh terhadap rendahnya motivasi belajar, tetapi jika sebaliknya akan berdampak pada meningkatkan motivasi belajar.

Faktor dinamisasi belajar juga mempengaruhi motivasi. Hal ini bisa diamati pada sejauhmana upaya memotivasi si pemelajar dilakukan, bagaimana juga dengan bahan pelajaran,alat bantu belajar, suasana belajar dan sebagaimana bisa mendinamiskan proses pembelajaran. Makin dinamis suasana belajar maka cenderung akan memberi motivasi yang kuat dalam proses pembelajaran.

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan mengenai motivasi:

  • Material harus bermakna dan berharga bagi peserta, tidak hanya bagi pelatih.
  • Yang harus termotivasi bukan hanya peserta tetapi juga pelatih itu sendiri. Sebab jika pelatih tidak termotivasi, pelatihan mungkin akan tidak menarik dan bahkan tidak mencapai tujuan yang diinginkan.
  • Seperti yang disebutkan dalam hukum kesesuaian (appropriateness), pelatih suatu ketika perlu mengidentifikasi satu kebutuhan kenapa peserta datang ke pelatihan. Pelatih biasanya dapat menciptakan motivasi dengan mengatakan bahwa sessi ini dapat memenuhi kebutuhan peserta.
  • Bergeraklah dari sisi tahu ke tidak tahu. Awali sessi dengan hal-hal atau poin-poin yang sudah akrab atau familiar bagi peserta. Secara perlahan-lahan bangun dan hubungkan poin-poin bersama sehingga setiap tahu kemana arah mereka di dalam proses pelatihan.
  1. Upaya-upaya Memotivasi Dalam Belajar

Dalam kenyataannya motivasi dalam belajar kadangkala naik begitu pesat tetapi juga kadang turun secara drastic. Karena itu perlu ada semacam upaya untuk memotivasi pemelajar. Ali Imron (1996) mengemukakan ada 4 upaya yang dapat dilakukan oleh guru guna meningkatkan motivasi belajar pemelajar. Empat cara tersebut adalah:

  • mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar.
  • mengoptimalkan unsur-unsur dinamis pembelajar.
  • mengoptimalkan pemanfaatan upaya guru dalam membelajarkan pemelajar juga menjadi faktor yang mempengaruhi motivasi.

Jika guru tidak bergairah dalam proses pembelajaran maka akan cenderung menjadikan siswa atau pemelajar tidak memiliki motivasi belajar, tetapi sebaliknya jika guru memiliki gairah dalam membelajarka pemelajar maka motivasi pembelajar akan lebih baik. Hal-hal yang disajikan secara menarik oleh guru juga menjadi sesuatu yang mempengaruhi tumbuhnya motivasi pemelajar atau pengalaman/kemampuan yang telah dimiliki,

(4) mengembangkan aspirasi dalam belajar.

Ada sejumlah prinsip-prinsip belajar yang harus dioptimalkan sebagai upaya memotivasi dalam belajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah: prinsip perhatian, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan belajar, rangsangan dan tantangan, pemberian balikan dan penguatan, dan prinsip individual antar pembelajar. Untuk mengoptimalkan prinsip-prinsip tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang tepat dan menupayakan untuk menjaukan kendala-kendala yang ditemui dalam proses optimalisasi tersebut.

Optimalisasi unsur dinamis juga perlu dilakukan. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara perlu kreativitas dalam menyiapkan alat-alat belajar bersama pemelajar. Selain itu bias juga dilakukan dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar di luar sekolah.

Optimalisasi pengalaman maupun kemampuan pemelajar juga perlu dilakukan untuk memotivasi pemelajar. Hal ini bisa dengan beberapa cara, antara lain:

  • biarkan pemelajar menangkap sesuai kemampuan dan pengalamannya.
  • kaitkan pengalaman belajar saat ini dengan pengalaman masa lalu.
  • lakukan penggalian pengalaman dan kemampuan yang dimiliki pembelajar misalnya melalui tes lisan atau tertulis.
  • beri kesempatan pemelajar untuk membandingkan apa yang sekarang dipelajari dengan kemampuan dan pengalaman yang telah dimilikinya.

Cita-cita dan aspirasi juga penting dikembangkan sabagai upaya dalam memotivasi belajar si pemelajar. Setidaknya ada tiga langkah yang perlu dilakukan;

  • kenalilah aspirasi dan cita-cita si pemelajar.
  • komunikasikan hasil pengenalan tersebut kepada pemelajar dan orang tuanya.
  • buatlah program-program yang dapat mengembangkan cita-cita dan aspirasi pemelajar.

DAFTAR PUSTAKA

Angkowo, R. (2007). Optimalisasi Media Pembelajaran, Jakarta: PT. Grasindo.

Makmun, Abin Syamsudin. (2001). Psikologi Kependidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nasution, S. (2000). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bumi. Angkasa.

Sardiman, AM. (2001). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Persada.

Syah, Muhibbin. (2001). Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tilaar, H.A.R. (2000). Manajemen Pendidikan Nasional, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s