MASALAH BELAJAR

Tearing-Hair-Out

Oleh: Cecep Kustandi

cecepkustandi@yahoo.com

 

  1. Pengertian Masalah Belajar

Prayitno (1985) mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain, ingin atau perlu dihilangkan. Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar dapat didefinisikan “Belajar ialah sesuatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

Menurut Gagne (1984: 77) bahwa “belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman”. Dari definisi masalah dan belajar maka masalah belajar dapat diartikan atau didefinisikan sebagai berikut :

Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan”.

Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.

Dalam interaksi belajar mengajar siswa merupakan kunci utama keberhasilan belajar selama proses belajar yang dilakukan. Proses belajar merupakan aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar.

Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya :

  1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan.
  2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat indra, atau gangguan psikologis lainnya.
  3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
  4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
  5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Masalah Belajar

Faktor-Faktor yang dialami dan dihayati oleh siswa dan hal ini akan sangat berpengaruh terhadap proses belajar:

  1. Faktor-faktor Internal Belajar
  2. Sikap Terhadap Belajar

Selama melakukan proses pembelajaran sikap siswa akan menentukan hasil dari pembelajaran tersebut. Pemahaman siswa yang salah terhadap belajar akan membawa kepada sikap yang salah dalam melakukan pembelajaran. Sikap siswa ini akan mempengaruhinya terhadap tindakan belajar. Sikap yang salah akan membawa siswa merasa tidak peduli dengan belajar lagi. Akibatnya tidak akan terjadi proses belajar yang kondusif.

  1. Motivasi Belajar

Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Lemahnya motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya mutu belajar akan menjadi rendah. Oleh karena itu motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus.

  1. Konsentrasi Belajar

Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk memperkuat perhatian guru perlu melakukan berbagai strategi belajar mengajar dan memperhatikan waktu belajar serta selingan istirahat. Menurut seorang ilmuan ahli psikologis kekuatan belajar seseorang setelah tiga puluh menit telah mengalami penurunan. Ia menyarankan agar guru melakukan istirahat selama beberapa menit. Dengan memberikan selingan istirahat, maka perhatian dan prestasi belajar dapat ditingkatkan.

  1. Mengolah Bahan Belajar

Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menrima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. Isi bahan belajar merupakan nilai-nilai dari suatu ilmu pengetahuan, nilai agama, nilai kesusilaan, serta nilai kesenian. Kemampuan siswa dalam mengolah bahan pelajaran menjadi makin baik jika siswa berperan aktif selama proses belajar.

  1. Kemampuan Berprestasi

Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan puncak suatu proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan hasil belajar yang telah lama ia lakukan. Siswa menunjukan bahwa ia telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau menstransfer hasil belajar. Dari pengalaman sehari-hari di sekolah diketahui bahwa ada sebagian siswa tidak mampu berprestasi dengan baik. Kemampuan berprestasi tersebut terpengaruh pada proses-proses penerimaan, pengaktifan, pra-pengolahan, pengolahan, penyimpanan, serta pemanggilan untuk pembangkitan pesan dan pengalaman.

  1. Rasa Percaya Diri Siswa

Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian perwujudan diri yang diakui oleh guru dan rekan sejawat siswa. Semakin sering siswa mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik maka rasa percaya dirinya akan meningkat. Dan apabila sebaliknya yang terjadi maka siswa akan merasa lemah percaya dirinya.

  1. Intelegensi dan Keberhasilan Belajar

Intelegensi merupakan suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara baik dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Kecakapan tersebut menjadi aktual bila siswa memecahkan masalah dalam belajar atau kehidupan sehari-hari. Dengan perolehan hasil belajar yang rendah, yang disebabkan oleh intelegensi yang rendah atau kurangnya kesungguhan belajar, berarti terbentuknya tenaga kerja yang bermutu rendah. Hal ini akan merugikan calon tenaga kerja itu sendiri. Oleh karena itu pada tempatnya mereka didorong untuk melakukan belajar dibidang keterampilan.

  1. Kebiasaan Belajar

Kebiasaan-kebiasaan belajar siswa akan mempengaruhi kemampunanya dalam berlatih dan menguasai materi yang telah disampaikan oleh guru. Kebiasaan buruk tersebut dapat berupa belajar pada akhir semester, belajar tidak teratur, menyia-nyiakan kesempatan belajar, bersekolah hanya untuk bergengsi, datang terlambat bergaya pemimpin, bergaya jantan seperti merokok. Kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut dapat ditemukan di sekolah-sekolah pelosok, kota besar, kota kecil. Untuk sebagian kebiasaan tersebut dikarenakan oleh ketidakmengertian siswa dengan arti belajar bagi diri sendiri.

  1. Cita-cita Siswa

Cita-cita sebagai motivasi intrinsik perlu didikan. Didikan memiliki cita-cita harus ditanamkan sejak mulai kecil. Cita-cita merupakan harapan besar bagi siswa sehingga siswa selalu termotivasi untuk belajar dengan serius demi menggapai cita-cita tersebut. Dengan mengaitkan pemilikan cita-cita dengan kemampuan berprestasi maka siswa diharapkan berani bereksplorasi sesuai dengan kemampuannya sendiri.

  1. Faktor-faktor Eksternal Belajar

Faktor-faktor eksternal tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Guru Sebagai Pembina Siswa Belajar

Guru adalah pengajar yang mendidik. Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik pemuda generasi bangsanya. Guru yang mengajar siswa adalah seorang pribadi yang tumbuh menjadi penyandang profesi bidang studi tertentu. Sebagai seorang pribadi ia juga mengembangkan diri menjadi pribadi utuh. Sebagai seorang diri yang mengembangkan keutuhan pribadi, ia juga menghadapi masalah pengembangan diri, pemenuhan kebutuhan hidup sebagai manusia.

  1. Prasarana dan Sarana Pembelajaran

Lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Hal ini tidak berarti bahwa lengkapnya sarana dan prasarana menentukan jaminan melakukan proses pembelajaran yang baik. Justru disinilah muncul bagaimana mengolah sarana dan prasarana pembelajaran sehingga terselenggara proses belajar yang berhasil dengan baik.

  1. Lingkungan Sosial Siswa di Sekolah

Tiap siswa dalam lingkungan sosial memiliki kedudukan, peranan dan tanggung jawab sosial tertentu. Dalam kehidupan tersebut terjadi pergaulan seperti hubungan sosial tertentu. Dalam kehidupan tersebut terjadi hubungan akrab kerjasama, kerja berkoperasi, berkompetisi, bersaing, konflik atau perkelahian.

  1. Kurikulum Sekolah

Kurikulum yang diberlakukan di sekolah adalah kurikulum nasional yang disahkan oleh pemerintah, atau yayasan pendidikan. Kurikulum disusun berdasarkan tuntutan kemajuan masyrakat. Dengan kemajuan dan perkembangan masyrakat timbul tuntutan kebutuhan baru dan akibatnya kurikulum sekolah perlu direkonstruksi. Adanya rekonstruksi itu menimbulkan kurikulum baru. Perubahan kurikulum sekolah menimbulkan masalah seperti tujuan yang akan dicapai mungkin akan berubah, isi pendidikan berubah, kegiatan belajar mengajar berubah serta evaluasi berubah.

  1. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Masalah Belajar

Kesulitan belajar ini merupakan suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis pernyataan (manifestasi). Karena guru bertanggung jawab terhadap proses belajar-mengajar, maka ia seharusnya memahami manifestasi gejala-gejala kesulitan belajar. Pemahaman ini merupakan dasar dalam usaha memberikan bantuan kepada murid yang mengalami kesulitan belajar.

Pada garis besarnya sebab-sebab timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu :

  1. Faktor-faktor Internal ( faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri ), antara lain:
  • Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahan (alergi, asma, dan sebagainya).
  • Ketidakseimbangan mental (adanya gangguan dalam fungsi mental), seperti menampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasannya cenderung kurang.
  • Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyesuaikan diri (maladjustment), tercekam rasa takut, benci, dan antipati serta ketidakmatangan emosi.
  • Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap salah seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah, malas dalam belajar, dan sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.
  1. Faktor Eksternal (faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu), yaitu :
  2. Sekolah, antara lain :
  • Sifat kurikulum yang kurang fleksibel
  • Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru)
  • Metode mengajar yang kurang memadai
  • Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar
  1. Keluarga (rumah), antara lain :
  • Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis.
  • Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya
  • Keadaan ekonomi.

Menurut Lindgren, (1967 : 55) bahwa lingkungan sekolah, terutama guru. Guru yang akrab dengan murid, menghargai usaha-usaha murid dalam belajar dan suka memberi petunjuk kalau murid menghadapi kesulitan, akan dapat menimbulkan perasaan sukses dalam diri muridnya dan hal ini akan menyuburkan keyakinan dalam diri murid. Melalui contoh sikap sehari-hari, guru yang memiliki penilaian diri yang positif akan ditiru oleh muridnya, sehingga murid-muridnya juga akan memiliki penilaian diri yang positif.

Jadi jelaslah bahwa guru yang kurang akrab dengan murid, kurang menghargai usaha-usaha murid maka murid akan merasa kurang diperhatikan dan akan mengakibatkan murid itu malas belajar atau kurangnya minat belajar sehingga anak itu akan mengalami kesulitan belajar. Keberhasilan seorang murid dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari sekolah seperti guru yang harus benar-benar memperhatikan peserta didiknya.

  1. Cara Mengatasi Kesulitan Belajar

Usaha untuk mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi siswa harus dilakukan dengan mengadakan diagnosis atau remedies yaitu melalui proses pemeriksaan terhadap gejala kesulitan belajar yang terjadi dan diakhiri dengan mengadakan remedies atau perbaikan sehingga masalah kesulitan belajar siswa benar dapat diatasi.

Pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar tersebut harus berlangsung secara sistimatis dan terarah melalui langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Mengidentifikasi adanya kesulitan belajar

Pada langkah pertama ini guru harus mengidentifikasi/ menetapkan adanya kesulitan belajar pada diri siswa. Menetapkan untuk memastikan adanya kesulitan belajar tersebut tidak boleh berdasarkan naluri belaka, tetapi harus didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman.

Oleh karena itu makin luas pengetahuan guru tentang gejala-gejala kesulitan belajar dan makin banyak pengalaman guru dalam mengidentifikasi kesulitan belajar, akan makin terampil guru tersebut dalam melaksanakan langkah pertama dari diagnosis kesulitan belajar ini.

Sebagai pedoman untuk menetapkan adanya kesulitan belajar guru dapat menggunakan hasil post test dan catatan perilaku siswa yang menyimpang selama 2 atau 3 kali pertemuan. Siswa-siswa yang selama periode tersebut memperoleh nilai-nilai hasil post test yang rendah dan ada tanda-tanda menunjukkan perilaku yang menyimpang mereka itulah jelas siswa yang mengalami kesulitan belajar. Jadi langkah pertama ini diakhiri setelah memperoleh kepastian siapa-siapa siswa yang mengalami kesulitan belajar.

  1. Menelaah/ menetapkan status siswa

Setelah guru mengidentifikasi dan memperoleh kepastian tentang siapa-siapa yang mengalami kesulitan dalam belajar, maka pada langkah kedua ini guru selanjutnya akan menelaah atau memeriksa setiap siswa yang mengalami kesulitan tersebut.

Tujuan menelaah/ memeriksa setiap siswa yang dimaksudkan pada langkah kedua ini ialah untuk menetapkan jenis atau bentuk kesulitan belajar yang dialami oleh setiap siswa.

Untuk memastikan jenis atau bentuk kesulitan masing-masing siswa dapat dilakukan dengan dua cara : Pertama, dengan membandingkan hasil pencapaian/ penguasaan TIK (Tujuan Instruksional Khusus) hasil belajar siswa dengan TIK yang ditargetkan untuk dicapai siswa. Dengan cara ini dapat ditetapkan bagian-bagian mana atau hal-hal apa saja dari konsep atau materi pelajaran yang disampaikan guru yang sulit dikuasai oleh masing-masing siswa.

Kemudian yang kedua, dilakukan dengan menetapkan bentuk kesulitan mereka dalam proses belajarnya, apakah sumber kesulitan tersebut  terjadi pada waktu menerima atau pada waktu menyerap pelajaran.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dari langkah kedua inilah setiap siswa inilah setiap siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat dipastikan jenis dan bentuk kesulitan mereka dalam proses belajarnya masing-masing.

3.Memperkirakan sebab terjadinya kesulitan belajar

Setelah jelas jenis atau bentuk kesulitan yang dihadapi setiap siswa dalam proses belajarnya maka pada tahap ketiga ini guru harus berupaya untuk memperkirakan sebab timbulnya kesulitan tersebut.

Upaya yang dapat dilakukan guru untuk menetapkan sebab kesulitan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan alat diagnostik kesulitan belajar. Alat tersebut dapat berupa test diagnostik dan test-test untuk mengukur kemampuan inteligensi, kemampuan mengingat, kemampuan alat indera dan sebagainya yang erat kaitannya dengan proses belajar.

Berdasarkan informasi dari hasil test tersebut dapat ditetapkan penyebab kesulitan yang dihadapi setiap siswa dalam proses belajarnya, apakah karena alat inderanya kurang baik, ingatannya lemah, kecerdasannya kurang, kurang matang untuk belajar karena kurang menguasai konsep dasar yang dipelajari, kurang motivasi dan sebagainya.

  1. Mengadakan perbaikan

Dengan mengetahui sebab kesulitan yang dihadapi oleh setiap siswa maka selanjutnya guru dapat bertindak untuk mengadakan perbaikan guna mengatasi kesulitan yang dihadapi mereka.

Strategi pelaksanaan yang ditempuh guru dalam mengadakan perbaikan ini harus dilakukan dengan melalui pendekatan psikologis didaktis, yaitu, Pertama, siswa yang akan diperbaiki sudah menyadari faktor kesulitan/ kekurangan mereka. Kedua, mereka yakin kesulitan/ kekurangan mereka dapat mereka atasi.

Kedua kondisi psikologis siswa tersebut harus ditimbulkan pada diri siswa dengan melalui bimbingan dan kebijakan guru. Dan berdasarkan petunjuk dan kebijakan guru itu pulalah prosedur ketiga dilaksanakan yaitu siswa dibimbing untuk mengadakan perbaikan sesuai dengan sebab dan kondisi kesulitan yang mereka alami.

DAFTAR PUSTAKA

Imron, Ali. 1996. Belajar dan Pembelajaran.Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya.

Mudjiono dan Dimyati. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Sabri, Alisuf. 1995. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya.

Siregar, Eveline dan Nara, Hartini. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s