KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

teaching-not-back-up-career1

Oleh: Cecep Kustandi

cecepkustandi@yahoo.com

 

  1. Pengertian dan Hakikat KTSP

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.

Hal-hal yang perlu dipahami dalam kaitannya dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah sebagai berikut:

  1. KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan karakteristik daerah serta sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik.
  2. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervise dinas pendidikan kabupaten/ kota dan departemen agama yang bertanggungjawab di bidang pendidikan.
  3. Kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk setiap program studi di perguruan tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

KTSP terdiri atas tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan dan silabus.

  1. Asumsi yang Mendasari KTSP

Keterlibatan guru, kepala sekolah, masyarakat yang tergabung dalam komite sekolah dan dewan pendidikan dalam pengambilan keputusan akan membangkitkan rasa kepemilikan yang lebih tinggi terhadap kurikulum, sehingga mendorong mereka untuk mendayagunakan sumber daya yang ada seefisien mungkin untuk mencapai hasil yang optimal. Konsep ini didasarkan pada Self Determination Theory yang menyatakan bahwa jika seseorang memiliki kekuasaan dalam pengambilan suatu keputusan maka akan memiliki tanggung jawab yang besar untuk melaksanakan keputusan tersebut.

  1. Tujuan KTSP

Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum.

Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP adalah:

  1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
  2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.
  3. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.
  1. Sebab-sebab Munculnya KTSP
  1. bergulirnya otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan

KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif dan berprestasi. KTSP merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan proses belajar mengajar di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. Pada sistem KTSP, sekolah memiliki “full authority and responsibility” dalam menetapkan kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan visi, misi dan tujuan satuan pendidikan.

Otonomi daerah:

  1. UU No.32 Tahun 2004 sebagai pengganti UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Pasal 13 dan 14 bahwa “Penyelenggaraan pendidikan merupakan urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah; provinsi dan kabupaten/ kota).
  2. UU No.20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 36 ayat 2 menyebutkan bahwa “Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dalam prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.
  1. kebijakan-kebijakan yang mendukung

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dilandasi oleh undang-undang dan peraturan pemerintah sebagai berikut:

  1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
  3. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
  4. Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
  5. Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Permendiknas Nomor 22 dan 23
  1. teori pengembangan kurikulum
Pola Strategi Pengembangan
Sentralistik Dikembangkan secara terpusat
Desentralistik Diserahkan ke masing-masing daerah
Dekonsentrasi Kerangka dasarnya oleh pusat, penjabarannya oleh daerah
  1. a.Mekanisme Penyusunan KTSP
  1. Pembentukan Tim Kerja

Dalam rangka pengembangan KTSP, setiap satuan pendidikan perlu membentuk tim pengembang kurikulum. Terdiri dari guru, kepala sekolah, guru pembimbing (konselor), komite sekolah dan dalam hal tertentu melibatkan orang tua atau peserta didik.

  1. Penyusunan Draft

Setelah terbentuk tim pengembang KTSP, selanjutnya mengembangkan draft KTSP yang lengkap mulai dari perumusan visi dan misi satuan pendidikan sampai pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), yang siap diaktualisasikan dalam pembelajaran.

  1. Revisi dan Finalisasi

b.Pengesahan KTSP

Dokumen kurikulum tingkat satuan pendidikan SD, SMP, SMA dan SMK dinyatakan berlaku oleh kepala sekolah serta diketahui oleh komite sekolah dan dinas kabupaten/ kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.

Dokumen kurikulum tingkat satuan pendidikan MI, MTs, MA dan MKA dinyatakan berlaku oleh kepala madrasah serta diketahui oleh komite madrasah dan oleh departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama.

Dokumen kurikulum tingkat satuan pendidikan SDLB, SMPLB dan SMALB dinyatakan berlaku oleh kepala sekolah serta diketahui oleh komite sekolah dan dinas provinsi yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.

  1. a.Komponen KTSP
  1. Standar Isi, dalam bentuk SK dan KD

Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi merupakan pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang memuat:

  • kerangka dasar dan struktur kurikulum (SK dan KD),
  • beban belajar,
  • kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dikembangkan di tingkat satuan pendidikan, dan
  • kalender pendidikan.
  1. SKL

SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. SKL meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran. Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Tugas guru yaitu mengembangkan SK dan KD dalam bentuk indikator. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator  75% dimana dalam menentukan kriteia tersebut harus mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus-menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal.

  1. Standar Proses

Jumlah jam/minggu :

  • SD/MI 1-3 = 27/minggu
  • SD/MI 4-6 = 32/minggu
  • SMP/MTs = 32/minggu
  • SMA/MA= 38-39/minggu

Lama belajar per 1 jam pelajaran:

  • SD/MI = 35 menit
  • SMP/MTs = 40 menit
  • SMA/MA = 45 menit
  1. Tenaga Pendidikan

Guru adalah faktor penting yang perlu diperhatikan dalam perubahan kurikulum dan implementasinya dalam pembelajaran. Sebab bagaimanapun baiknya suatu kurikulum jika tidak ditunjang oleh pemahaman dan kompetensi guru maka dalam implementasinya disekolah akan menemukan kegagalan.

Menurut Oemar Hamalik (2004) mengatakan bahwa ada beberapa syarat menjadi guru profesional, yaitu harus memiliki:

  • Bakat sebagai guru
  • Keahlian sebagai guru (ditunjang dengan minimal lulusan S1)
  • Kepribadian yang baik dan terintegrasi
  • Mental yang sehat
  • Berbadan sehat
  • Pengalaman dan pengeahuan yang luas
  • Guru adalah manusia berjiwa Pancasila
  • Guru adalah seorang warga negara yang baik
  1. Sarana dan Prasarana

Sarana prasarana dalam mendukung ketersediaan sumber belajar antara lain laboratorium, pusat sumber belajar dan perpustakaan, mengembangkan alat-alat pembelajaran serta alat peraga lain yang berguna bagi peningkatan kualitas pembelajar.

  1. Pengelolaan

Kepala sekolah adalah manajer pendidikan professional yang direkrut komite sekolah untuk mengelola segala kegiatan sekolah berdasarkan kebijakan yang telah ditetapkan. Disamping itu adanya wali kelas sebagai tenaga pengelola yang difokuskan pada tiap/ masing-masing kelas dalam suatu sekolah.

  1. Pembiayaan

b.Landasan Pengembangan

Dengan memperhatikan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36:

  1. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
  2. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversivikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.
  3. Kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP.

c.Pengembangan KTSP

Kegiatan yang dilakukan pada tahap pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut.

  1. Menganalisis dan mengembangkan standar kompetensi lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI).
  2. Merumuskan visi dan misi serta merumuskan tujuan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.
  3. Berdasarkan SKL, standar isi, visi dan misi serta tujuan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan di atas selanjutnya dikembangkan bidang studi-bidang studi yang akan diberikan untuk merealisasikan tujuan tersebut.
  4. Mengembangkan dan mengidentifikasi tenaga-tenaga kependidikan (guru dan non guru) sesuai dengan kualifikasi yang diperlukan dengan berpedoman pada standar tenaga kependidikan yang ditetapkan BSNP.
  5. Mengidentifikasi fasilitas pembelajaran yang diperlukan untuk memberikan kemudahan belajar sesuai dengan standar sarana dan prasarana pendidikan yang ditetapkan BSNP.

d.Strategi Pengembangan KTSP

Terdapat beberapa strategi yang perlu diperhatikan dalam pengembangan dan pelaksanaan KTSP misalnya dalam:

  1. Sosialisasi KTSP di Sekolah

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah mensosialisasikan KTSP terhadap seluruh warga sekolah bahkan terhadap masyarakat dan peserta didik. Sosialisasi ini dapat dilakukan oleh kepala sekolah secara langsung atau bisa mengundang ahlinya yang ada di masyarakat baik dari kalangan pemerintah, akademisi ataupun dari kalangan penulis/ pengamat pendidikan. Setelah sosialisasi, musyawarah dilakukan antara kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan dan komite sekolah untuk mendapatkan persetujuan dan pengesahan dari berbagai pihak dalam rangka menyukseskan KTSP di sekolah.

  1. Menciptakan Suasana yang Kondusif

Iklim belajar yang kondusif antara lain dapat dikembangkan melalui berbagai layanan dan kegiatan sebagai berikut:

  1. Menyediakan pilihan bagi peserta didik yang lambat maupun yang cepat dalam melakukan tugas pembelajaran (pelayanan individual).
  2. Memberikan pembelajaran remedial bagi para peserta didik yang kurang berprestasi/ berprestasi rendah.
  3. Mengembangkan organisasi kelas yang efektif, menarik, nyaman dan aman bagi perkembangan potensi seluruh peserta didik secara optimal. Termasuk penyediaan bahan pembelajaran yang menarik dan menantang bagi peserta didik serta pengelolaan kelas yang tepat, efektif dan efisien.
  4. Menciptakan kerjasama saling menghargai, dimana peserta didik memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengemukakan pandangannya tanpa ada rasa takut mendapatkan sangsi atau dipermalukan.
  5. Melibatkan peserta didik dalam proses perencanaan belajar dan pembelajaran agar mereka merasa bertanggung jawab terhadap pembelajaran yang dilaksanakan. Dalam hal ini guru harus mampu memposisikan diri sebagai pembimbing dan manusia sumber.
  6. Mengembangkan proses pembelajaran sebagai tanggung jawab bersama antara peserta didik dan guru sehingga guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan sebagai sumber belajar.
  7. Mengembangkan sistem evluasi belajar dan pembelajaran yang menekankan pada evaluasi diri sendiri (self evaluation). Guru sebagai fasilitator harus mampu membantu peserta didik untuk menilai bagaimana mereka memperoleh kemajuan dalam proses belajar yang dilaluinya.
  1. Menyiapkan Sumber Belajar

Sumber belajar yang perlu dikembangkan dalam KTSP di sekolah antara lain laboratorium, pusat sumber belajar dan perpustakaan serta tenaga pengelola yang profesional. Kreativitas guru dan peserta didik perlu senantiasa ditingkatkan untuk membuat dan mengembangkan alat-alat pembelajaran serta alat peraga lain yang berguna bagi peningkatan kualitas pembelajaran.

  1. Membina Disiplin

Stategi yang dapat digunakan dalam membina disiplin di sekolah sebagai berikut:

  1. Konsep diri (self-concept), guru disarankan bersikap empatik; menerima; hangat dan terbuka sehingga peserta didik dapat mengeksplorasikan pikiran dan perasaannya dalam memecahkan masalah.
  2. Keterampilan berkomunikasi (communication skills), guru harus memiliki keterampilan komunikasi yang efektif agar mampu menerima semua perasaan dan mendorong timbulnya kepatuha peserta didik.
  3. Konsekuensi-konsekuensi logis dan alami (natural and logical consequences), perilaku-perilaku yang salah terjadi karena peserta didik telah mengembangkan kepercayaan yang salah terhadap dirinya. Sehingga mendorong munculnya perilaku-perilaku yang salah, untuk itu guru disarankan menunjukkan secara tepat tujuan perilaku yang salah sehingga membantu peserta didik dalam mengatasi perilakunya dan memanfaatkan akibat-akibat logis dan alami dari perilaku yang salah.
  4. Klarifikasi nilai (values clarification), strategi untuk membantu peserta didik dalam menjawab pertanyaannya sendiri tentang nilai-nilai dan membentuk sistem nilanya sendiri.
  5. Analisis transaksional (transactional analysis), disarankan supaya guru belajar sebagai orang dewasa trutama apabila berhadapan dengan peserta didik yang menghadapi masalah.
  6. Terapi realitas (reality therapy), sekolah harus berupaya mengurangi kegagalan dan meningkatkan keterlibatan, dalam hal ini guru harus bersikap positif dan bertanggung jawab.
  7. Disiplin yang terintegrasi (assertive discipline), metode ini menekankan pengendalian penuh oleh guru untuk mengembangkan dan mempertahankan peraturan. Prinsip-prinsip modifikasi perilaku yang sistematik diimplementasikan di kelas termasuk pemanfaatan papan tulis untuk menuliskan nama-nama peserta didik yang berperilaku menyimpang.

Pembinaan disiplin seperti di atas harus mempertimbangkan berbagai situasi dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhinya, sehingga guru disarankan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Mempelajari pengalaman peserta didik di sekolah melalui kartu catatan kumulatif;
  • Mempelajari nama-nama peserta didik secara langsung, misalnya melalui daftar hadir di kelas;
  • Mempertimbangkan lingkungan pembelajaran dan lingkungan peserta didik;
  • Memberikan tugas yang jelas, dapat dipahami, sederhana dan tidak bertele-tele;
  • Menyiapkan kegiatan sehari-hari agar apa yang dilakukan dalam pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan, tidak terjadi banyak penyimpangan;
  • Bergairah dan bersemangat dalam melakukan pembelajaran, agar dijadikan teladan oleh peserta didik;
  • Berbuat sesuatu yang berbeda dan bervariasi, jangan monoton sehingga membantu disiplin dan gairah peserta didik;
  • Menyesuaikan argumentasi dengan kemampuan peserta didik, jangan memaksakan peserta didik sesuai dengan pemahaman guru, atau mengukur peserta didik dari kemampuan gurunya; dan
  • Membuat peraturan yang jelas dan tegas agar bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh peserta didik dan lingkungannya.
  1. Mengembangkan Kemandirian Kepala Sekolah

Kepala sekolah harus mampu mengambil keputusan yang bijaksana secara tepat waktu dan tepat sasaran, tanpa harus menunggu perintah dari pimpinan yang ada di atasnya.

  1. Membangun Karakter Guru

Agar guru mampu memerankan dirinya sebagai fasilitator pembelajaran, terdapat beberapa hal yang harus dipahaminya dari peserta didik yaitu kemampuan, potensi, minat, hobi, sikap, kepribadian, kebiasaan, catatan kesehata, latar belakang keluarga dan kegiatannya di sekolah. Sehubungan dengan pengembangan KTSP, guru perlu memperhatikan perbedaan individual peserta didik, sehingga dalam pembelajaran harus berusaha untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Mengurangi metode ceramah;
  2. Memberikan tugas yang berbeda bagi setiap peserta didik;
  3. Mengelompokkan peserta didik berdasarkan kemampuannya serta disesuaikan dengan mata pelajaran;
  4. Memodifikasi dan memperkarya bahan pembelajaran;
  5. Menghubungi spesialis, bila ada peserta didik yang mempunyai kelainan;
  6. Menggunakan prosedur yang bervariasi dalam membuat penilaian dan laporan;
  7. Memahami bahwa peserta didik tidak berkembang dalam kecepatan yang sama;
  8. Mengembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap anak bekerja dengan kemampuan masing-masing pada setiap pelajaran; dan
  9. Mengusahakan keterlibatan peserta didik dalam berbagai kegiatan pembelajaran.

Guru yang berhasil mengajar berdasarkan perbedaan tersebut biasanya memahami mereka melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

  1. Mengobservasi peserta didik dalam berbagai situasi, baik di dalam kelas maupun di luar kelas;
  2. Menyediakan waktu untuk mengadakan pertemuan dengan peserta didik, sebelum, selama dan setelah pembelajaran;
  3. Mencatat dan mengecek seluruh pekerjaan peserta didik, dan memberikan komentar yang konstruktif;
  4. Mempelajari catatan peserta didik;
  5. Membuat tugas dan latihan untuk berkelompok;
  6. Memberikan kesempatan khusus bagi peserta didik yang memiliki kemampuan yang berbeda; dan
  7. Memberikan penilaian secara adil dan transparan.
  1. Memberdayakan Staf

Pelaksanaan manajemen staf di Indonesia sedikitnya mencakup tujuh kegiatan utama, yaitu perencanaan, pengadaan, pembinaan dan pengembangan, promosi dan mutasi, pemberhentian kompensasi dan penilaian. Peningkatan kualitas staf perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: senantiasa dilakukan peningkatan kemampuan staf, dapat dilakukan melalui pendidikan formal, informal dan nonformal (dalam hal ini lembaga-lembaga diklat di lingkungan dinas pendidikan nasional perlu senantiasa dioptimalkan perannya sesuai tugas dan fungsinya), sekolah perlu diberi kewenangan yang lebih besar untuk menentukan apa yang terbaik untuk peningkatan mutu tenaga kependidikan.

  1. a.Karakteristik KTSP

Karakteristik KTSP bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja,proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga kependidikan serta sistem penilaian. Karakteristik KTSP sebagai berikut:

  1. Pemberian Otonomi Luas Kepala Sekolah dan Satuan Pendidikan

KTSP memberikan otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan disertai seperangkat tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi setempat, diberikan kewenangan dan kekuasaan yang luas untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik serta tuntutan masyarakat. Sekolah dan satuan pendidikan juga diberikan kewenangan untuk menggali dan mengelola sumber dana sesuai dengan prioritas kebutuhan. Melalui otonomi yang luas sekolah dapat meningkatkan kinerja tenaga kependidikan dengan menawarkan partisipasi aktif mereka dalam pengambilan keputusan dan tanggungjawab bersama dalam pelaksanaan keputusan yang diambil secara proposional dan professional.

  1. Partisipasi Masyarakat dan Orang Tua yang Tinggi

Orang tua peserta didik dan masyarakat tidak hanya mendukung sekolah melalui bantuan keuangan, tetapi melalui komite sekolah dan dewan pendidikan merumuskan serta mengembangkan program-program yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Masyarakat dan orang tua menjalin kerja sama untuk membantu sekolah sebagai narasumber pada berbagai kegiatan sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

  1. Kepemimpinan yang Demokratis dan Profesional

Kepala sekolah dan guru-guru sebagai tenaga pelaksana kurikulum merupakan orang-orang yang memiliki kemampuan dan integritas professional. Kepala sekolah adalah manajer pendidikan professional yang direkrut komite sekolah untuk mengelola segala kegiatan sekolah berdasarkan kebijakan yang telah ditetapkan. Guru-guru yang direkrut oleh kepala sekolah adalah pendidik professional dalam bidangnya masing-masing, sehingga mereka bekerja berdasarkan pola kinerja professional yang disepakati bersama untuk member kemudahan dan mendukung keberhasilan pembelajaran peserta didik.

  1. Tim Kerja yang Kompak dan Transparan

Dalam dewan pendidikan dan komite sekolah misalnya, pihak-pihak yang terlibat bekerja sama secara harmonis sesuai dengan posisinya masing-masing untuk mewujudkan suatu “sekolah yang dapat dibanggakan”oleh semua pihak. Mereka tidak saling menunjukkan kuasa atau paling berjasa, tetapi masing-masing berkontribusi terhadap upaya peningkatan mutu dan kinerja sekolah secara keseluruhan. Dalam pelaksanaan pembelajaran misalnya, pihak-pihak terkait bekerja sama secara professional untuk mencapai tujuan-tujuan atau target yang disepakati bersama sehingga keberhasilan KTSP merupakan hasil sinergi (sinergistic effect) dari kolaborasi team yang kompak dan transparan.

Beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan KTSP, sebagai berikut:

  1. Sistem Informasi yang Jelas dan Transparan

Informasi yang jelas dan transparan menyebabkan seseorang dapat mengetahui kondisi dan posisi sekolah. Diperlukan suatu informasi untuk monitoring, evaluasi dan akuntabilitas pembelajaran. Informasi yang sangat penting untuk dimiliki sekolah antara lain berkaitan dengan kemampuan guru,prestasi peserta didik, sumbersumber belajar,kepuasan orang tua dan peserta didik serta visi dan misi sekolah.

  1. Sistem Penghargaan dan Hukuman

Tujuan dari sistem penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) adalah mendorong kinerja, meningkatkan motivasi dan produktivitas warga sekolah khususnya yang berkaitan dengan prestasi belajar peserta didik, sehingga sistem yang dikembangkan harus bersifat proporsional, adil dan transparan.

b.Perbedaan Antara KBK dan KTSP

Aspek Kurikulum 2004 Kurikulum 2006
1.       Implementasi /

Pelaksanaan

Kurikulum

·         Bukan dengan Keputusan/ Peraturan Mendiknas RI

·         Keputusan Dirjen Dikdasmen No.399a/C.C2/Kep/DS/2004 Tahun 2004.

·         Keputusan Direktur Dikme-num No. 766a/C4/MN/2003 Tahun 2003, dan No. 1247a/ C4/MN/2003 Tahun 2003.

·         Peraturan Mendiknas RI No. 24/2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri No. 22 tentang SI dan No. 23 tentang SKL
2.      Ideologi Pendidikan yang Dianut Liberalisme Pendidikan : terciptanya SDM yang cerdas, kompeten, profesional dan kompetitif Liberalisme Pendidikan : terciptanya SDM yang cerdas, kompeten, profesional dan kompetitif
3.      Sifat ·         Cenderung Sentralisme Pendidikan : Kurikulum disusun oleh Tim Pusat secara rinci; Daerah/Sekolah hanya melaksanakan

·         Kurikulum disusun rinci oleh Tim Pusat (Ditjen Dikmenum/ Dikmenjur dan Puskur)

·         Cenderung Desentralisme Pendidikan : Kerangka Dasar Kurikulum disusun oleh Tim Pusat; Daerah dan Sekolah dapat mengembangkan lebih lanjut.

·         Kurikulum merupakan kerangka dasar oleh Tim BSNP

4.      Pendekatan ·         Berbasis Kompetensi

·         Terdiri atas : SK, KD, MP dan Indikator Pencapaian

·         Berbasis Kompetensi

·         Hanya terdiri atas : SK dan KD. Komponen lain dikembangkan oleh guru

5.      Struktur ·         Berubahan relatif banyak dibandingkan kurikulum sebelumnya (1994 suplemen 1999)

·         Ada perubahan nama mata pelajaran

·         Ada penambahan mata pelajaran (TIK) atau penggabungan mata pelajaran (KN dan PS di SD)

·         Penambahan mata pelajaran untuk Mulok dan Pengem-bangan diri untuk semua jenjang sekolah

·         Ada pengurangan mata pelajaran (Misal TIK di SD), ada perubahan nama mata pelajaran

·         KN dan IPS di SD dipisah lagi

·         Ada perubahan jumlah jam pelajaran setiap mata pelajaran

6.      Beban Belajar Jumlah Jam/minggu :

·         SD/MI = 26-32/minggu

·         SMP/MTs = 32/minggu

·         SMA/SMK = 38-39/minggu

Lama belajar per 1 JP:

·         SD = 35 menit

·         SMP = 40 menit

·         SMA/MA = 45 menit

Jumlah Jam/minggu :

·         SD/MI 1-3 = 27/minggu

·         SD/MI 4-6 = 32/minggu

·         SMP/MTs = 32/minggu

·         SMA/MA= 38-39/minggu

Lama belajar per 1 JP:

·         SD/MI = 35 menit

·         SMP/MTs = 40 menit

·         SMA/MA = 45 menit

7.      Pengembangan Kurikulum       lebih lanjut ·         Hanya sekolah yang mampu dan memenuhi syarat dapat mengembangkan KTSP.

·         Guru membuat silabus atas dasar Kurikulum Nasional dan RP/Skenario Pembelajaran

·         Semua sekolah /satuan pendidikan wajib membuat KTSP.

·         Silabus merupakan bagian tidak terpisahkan dari KTSP

·         Guru harus membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

8.      Prinsip

Pelaksanaan

Kurikulum

Tidak terdapat prinsip pelaksanaan kurikulum ·         Didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya.

·         Menegakkan lima pilar belajar:

1.       belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME,

2.      belajar untuk memahami dan menghayati,

3.      belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,

4.      belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain,

5.      belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembela-jaran yang efektif, aktif, kreatif & menyenangkan.

9.      Pedoman

Pelaksanaan

Kurikulum

·         Bahasa Pengantar

·         Intrakurikuler

·         Ekstrakurikuler

·         Remedial, pengayaan, akselerasi

·         Bimbingan & Konseling

·         Nilai-nilai Pancasila

·         Budi Pekerti

·         Tenaga Kependidikan

·         Sumber dan Sarana Belajar

·         Tahap Pelaksanaan

·         Pengembangan Silabus

·         Pengelolaan Kurikulum

Tidak terdapat pedoman pelaksanaan kurikulum seperti pada Kurikulum 2004
  1. Dapatkah KTSP Mendongkrak Kualitas Pendidikan?

KTSP memiliki kekuatan sekaligus kelemahan. Kelemahan KTSP antara lain:

  1. KTSP, Kurikulum yang Tidak Sistematis

Ketidaklogisan KTSP terjadi karena sekolah diberi kebebasan untuk mengelaborasi kurikulum inti yang dibuat pemerintah, tetapi evaluasi nasional oleh pemerintah melalui ujian nasional (UN) justru paling menentukan kelulusan siswa.

Padahal mekanisme ini sendiri masih belum sesuai dengan aturan. Sebagaimana dinyatakan dalam ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 Ayat (1), “Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah:
a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
b. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan;
c. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan
d. lulus Ujian Nasional”.
Merujuk pada aturan di atas, maka dari segi implementasi, belum sesuai dengan aturan, yang mana hanya menggunakan UN sebagai patokan dalam menentukan kelulusan siswa. Pada pihak lain masih pasal yang sama ayat (2), “Kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditetapkan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan sesuai dengan kriteria yang dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri”. Di sini nampak belum konsistennya pemerintah, pada satu sisi menyerahkan tanggungjawab kepada pihak sekolah, tetapi pada pihak yang lain pemerintah ikut menentukan kelulusan. Pertanyaannya adalah apakah antara standar kelulusan yang ditentukan pihak pemerintah (BSNP) realistis dengan proses pembelajaran yang berlangsung di masing-masing sekolah di seluruh Indonesia. Apakah dari segi standar isi (SI) telah dipenuhi oleh seluruh sekolah di Indonesia sehingga dalam hal standar kelulusan pun (melalui UN) diberlakukan sama.

  1. Kepala sekolah yang kurang mengerti KTSP, dalam hal ini kepala sekolah masih membuat pola-pola penyeragaman, dalam sistem pembelajaran maupun evaluasi hasil pembelajaran, dinilai tidak memahami tujuan dan tuntutan kurikulum tingkat satuan pengajaran (KTSP) yang baru diberlakukan pemerintah.
  2. KTSP dan Problem Nation

Apakah KTSP sebagai perekat atau berpotensi lahirkan disintegrasi bangsa? Dalam suatu kesempatan perkuliahaan DR. C. Asri Budingsih pernah melontarkan pernyataan, “Ada wacana yang berkembang, ketika berdiskusi dengan Prof. Amin Rais, beliau berbicara soal KTSP, mungkinkah dapat menjamin integrasi bangsa, ataukah justru sebaliknya dapat menjadi ancaman disintegrasi.” Karena nation menghendaki adanya perasaan solidaritas antar warga yang berlainan latar belakangnya, maka pendidikan multikultural dipandang sebagai model pendidikan yang tepat untuk menjawabnya. Implementasi pendidikan multikultural dalam KTSP dapat didekati dari dua pendekatan, pertama, pendekatan instruksional atau formal, yaitu dengan mengintegrasikan subjek-subjek, seperti tema-tema menyangkut keanekaragaman sosial- budaya, toleransi ke dalam materi, pemilihan contoh-contoh, studi kasus, dan bahasa. Kedua, pendekatan informal, yaitu melalui sikap dan perilaku warga sekolah, harus dijauhkan dari sikap dan periaku seperti perilaku guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan lainnya yang hanya menonjolkan kelompok tertentu dan mengabaikan kelompok lainnya.

Agar pengembangan dan penerapan KTSP mampu mendongkrak kualitas pendidikan, perlu didukung perubahan mendasar dalam kebijakan pengelolaan sekolah yang menyangkut aspek-aspek berikut.

  1. Iklim Pembelajaran yang Kondusif

Suasana yang aman, nyaman dan tertib dapt mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan bermakna, yang lebih menekankan pada belajar mengetahui (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar menjadi diri sendiri (learning to be) dan belajar hidup bersama secara harmonis (learning to live together). Suasana tersebut memupuk tumbuhnya kemandirian dan berkurangnya ketergantungan di kalangan warga sekolah, bersifat adaptif dan proaktif serta memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet, inovatif dan berani mengambil resiko) tidak saja bagi peserta didik tetapi juga guru dan pimpinannya. Untuk itu, KTSP perlu didukung oleh ahli kurikulum dilengkapi oleh sarana dan prasarana pembelajaran dan diperkaya oleh sumber-sumber belajar yang memadai.

  1. Otonomi Sekolah dan Satuan Pendidkan

Implementasi dari KTSP yaitu adanya desentralisasi kebijakan dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran beserta sistem evaluasinya. Pemerintah pusat (BSNP, Depdiknas dan Depag) hanya menetapkan standar nasional yang pengembangannya diserahkan kepada madrasah atau sekolah.

  1. Kewajiban Sekolah dan Satuan Pendidikan

Sekolah dan satuan pendidikan dituntut mampu mengembangkan kurikulum dan mengelola sumber daya secara transparan, demokratis dan bertanggungjawab baik terhadap masyarakat maupun pemerintah, dalam rangka meningkatkan kapasitas pelayanan dan kualitas terhadap peserta didik.

  1. Kepemimpinan Sekolah yang Demokratis dan Profesional

Umumnya, kepala sekolah di Indonesia belum dapat dikatakan sebagai “manajer profesional” karena sistem pengangkatan selama ini tidak didasarkan pada kemampuan atau pendidikan profesional tetapi lebih pada pengalaman menjadi guru. Dengan demikian, pelaksanaan KTSP memerlukan perubahan sistem pengangkatan kepala sekolah atau madrasah dari pengangkatan karena kepangkatan atau pengalaman kerja sebagai guru kepada pengangkatan berdasarkan kemampuan dan keterampilan secara profesional. Dalam KTSP, kepala sekolah dan guru merupakan “the key person” keberhasilan pelaksanaan “pembelajaran”. Kepala sekolah dituntut untuk memiliki visi dan wawasan yang luas tentang pembelajaran yang efektif serta kemampuan profesional yang memadai dalam bidang perencanaan, kepemimpinan, manajerial dan supervisi pendidikan juga memiliki kemampuan untuk membangun kerjasama yang harmonis dengan berbagai pihak yang terkait dengan kurikulum.

  1. Revitalisasi Partisipasi Masyarakat dan Orang Tua

Dalam pengembangan KTSP, partisipasi aktif berbagai kelompok masyarakat dan pihak orang tua dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan program-program sekolah/ madrasah perlu dibangkitkan kembali. Bukan hanya dalam finansial tetapi juga dalam pemikiran untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

  1. Menghidupkan serta Meluruskan KKG dan MGMP

Musyawarah Guru Mata Pelaaran (MGMP) atau Musyawarah Guru Bidang Studi (MGBS) dan Kelompok Kerja Guru merupakan organisasi guru yang saat ini keberadaannya pada sebagian sekolah sudah tidak memiliki dan tidak melakukan program kerja sesuai dengan tujuan awalnya. Tujuan MGMP dan KKG terutama untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Terkadang organisasi ini hanya digunakan sebagai ajang arisan atau bahkan hanya untuk membicarakan jadwal les bagi peserta didik menjelang ujian. Hasil penelitian menunjukkan jumlah guru pada sekolah-sekolah umumnya sudah memadai tetapi suasana belajar belum cukup kondusif akibat metoda mengajar guru yang kurang bervariasi. Persoalan tersebut dapat diatasi melalui MGMP, termasuk cara mengembangkan KTSP dan komponen-komponen lainnya, serta mencari alternatif pembelajaran yang tepat dan menemukan berbagai variasi metoda dan variasi media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. MGMP dan KKG bisa mengundang ahli dari luar, baik ahli substansi mata pelajaran untuk membantu guru dalam memahami materi yang masih dianggap sulit atau membantu memecahkan masalah yang muncul di kelas maupun berbagai metode pembelajaran untuk menemukan cara yang paling sesuai dalam membentuk kompetensi tertentu. MGMP dan KKG dapat menyusun dan mengevaluasi perkembangan kemajuan belajar yang dilakukan secara berkala dan hasilnya digunakan untuk menyempurnakan rencana berikutnya. Beberapa sekolah yang telah mengembangkan kegiatan MGMP dan KKG secara efektif pada umumnya dapat mengatasi berbagai kesulitan dan permasalahan yang dihadapi oleh guru dan siswa, bukan saja dalam kegiatan belajar mengajar tetapi dalam kegiatan lainnya di sekolah, bahkan masalah pribadipun dapat dipecahkan.

  1. Kemandirian Guru

Kemandirian guru terutama diperlukan dalam menghadapi dan memecahkan berbagai problema yang sering muncul dalam pembelajaran. Guru harus mampu mengambil tindakan terhadap berbagai permasalahan secara tepat waktu dan tepat sasaran. Kemandirian guru juga menjadi figur peserta didik, sehingga mereka terbiasa untuk memecahkan masalah secara mandiri dan profesional. Kemandirian ini penting dalam kaitannya dengan penyesuaian KTSP dengan situasi aktual di dalam kelas dan dengan perbedaan karakteristik peserta didik yang beragam. Sehingga kemandirian guru diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenagkan (PAKEM) yang bermuara pada peningkatkan prestasi belajar peserta didik dan prestasi sekolah secara keseluruhan.


DAFTAR PUSTAKA

Mulyasa,E.2007.Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.Bandung:PT Remaja Rosdakarya.

Siregar,Eveline dan Hartini Nara.2007.Buku Ajar Teori Belajar dan Pembelajaran.Jakarta:UNJ.

http://rijono.wordpress.com/2008/02/28/kurikulum-2004-kbk-kurikulum-2006-ktsp-memang-berbeda-secara-signifikan/, Minggu 9 September 2012 Pukul: 14.04

http://totokprasetyono.wordpress.com/2011/05/30/kelemahan-ktsp-dan-solusinya/
Minggu 9 September 2012 Pukul: 13.54

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s