KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

IM_PASER_351

Oleh: Cecep Kustandi

cecepkustandi@yahoo.com

Dalam rangka mempersiapkan lulusan pendidikan memasuki era globalisasi yang penuh tantangan dan ketidakpastian, diperlukan pendidikan yang dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Untuk kepentingan tersebut pemerintahan memprogramkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) sebagai acuan dan pedoman bagi pelaksanaan pendidikan untuk mengembangkan berbagai ranah pendidikan dalam seluruh jenjang dan jalur pendidikan, khususnya pada jalur pendidikan sekolah.

Apa sebenarnya Kompetensi dan Kurikulum Berbasis Kompetensi itu?? Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. McAshan (1981:45) mengemukakan bahwa kompetensi : “…is knowledge, skills, and abilities or capabilities that a person achieves, which become part of his or being to the exent he or she can satisfactorily perform particular cognitive, affective, and psychomotor behaviors”. Selain itu, Finch & Crunkilton (1979:222) mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kompetensi mencakup tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk dapat melaksanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu. Dengan demikian terdapat hubungan antara tugas-tugas yang dapat dipelajari peserta didik di sekolah dengan kemampuan yang diperlukan oleh dunia kerja. Untuk itu, kurikulum menuntut kerja sama yang baik antara pendidikan dengan dunia kerja, terutama dalam mengidentifikasi dan menganalisis kompetensi yang perlu diajarkan kepada peserta didik di sekolah.

Berdasarkan pengertian kompetensi di atas kurikulum berbasis kompetensi dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan, dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab.

KBK memfokuskan pada pemeroleh kompetensi-kompetensi tertentu oleh peserta didik. Oleh karena itu kurikulum ini mencakup sejumlah kompetensi dan seperangkat tujuan pembelajaran yang dinyatakan sedemikian rupa, sehingga pencapaiannya dapat diamati dalam bentuk perilaku atau keterampilan peserta didik sebagai suatu criteria keberhasilan. Kegiatan pembelajaran perlu diarahkan untuk membantu peserta didik menguasai sekurang-kurangnya tingkat kompetensi minimal, agar mereka dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

KBK menuntut guru yang berkualitas dan profesional untuk melakukan kerja sama dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Dimana Kay (1977) mengemukakan bahwa pendidikan berbasis kompetensi merupakan : “….an approach to instruction that aims to teach each student the basic knowledge, skill, attitudes, and values essential to competence”. Kompetensi selalu dilandasi oleh rasionalitas yang dilakukan dengan penuh kesadaran “mengapa” dan “bagaimana” perbuatan tersebut dilakukan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan indikator yang menunjuk kepada perbuatan yang bisa diamati dan sebagai konsep yang mencakup aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap serta tahap-tahap pelaksanaannya secara utuh.

Terdapat tiga landasan teoritis yang mendasari kurikulum berbasis kompetensi. Pertama, adanya pergeseran dari pembelajaran kelompok kearah pembelajaran individual. Dalam pembelajaran individual setiap peserta didik dapat belajar sendiri, sesuai dengan cara dan kemampuan masing-masing, serta tidak bergantung kepada orang lain. Karena peserta didik memiliki kecepatan belajar yang berbeda, penggunaan alat yang berbeda, serta mempelajari bahan ajar yang berbeda pula. Kedua, pengembangan konsep belajar tuntas atau belajar penguasaan adalah suatu falsafah pembelajaran yang mengatakan bahwa dengan system pembelajaran yang tepat, semua peserta didik dapat mempelajari semua bahan yang diberikan dengan hasil yang baik. Bloom dalam Hall (1986) menyatakan bahwa “ sebagian besar peserta didik dapat menguasai apa yang diajarkan kepadanya, dan tugas pembelajaran  adalah mengkondisikan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik menguasai bahan pembelajaran yang diberikan. Ketiga, pendifisian kembali terhadap bakat. Dalam kaitan ini Hall (1986) menyatakan bahwa setiap peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran secara optimal, jika diberikan waktu yang cukup.

Hal tersebut memberikan beberapa implikasi terhadap pembelajaran. Pertama, pembelajaran perlu lebih menekankan pada kegiatan individual meskipun dilaksanakan secara klasikal, dan perlu memperhatikan perbedaan peserta didik. Kedua, perlu diupayakan lingkungan belajar yang kondusif, dengan metode dan media yang bervariasi, sehingga memungkinkan setiap  peserta didik belajar dengan tenang dan menyenangkan. Ketiga, dalam pembelajaran diperlukan waktu yang cukup, terutama dalam penyelesaian tugas atau praktik, agar setiap peserta didik dapat mengerjakan tugas belajarnya dengan baik.

Kurikulum berbasis kompetensi memiliki beberapa karakteristik antara lain mencakup seleksi kompetensi yang sesuai, spesifikasi indicator-idikator evaluasi untuk menentukan kesuksesan pencapaian kompetensi, dan pengembangan system pembelajaran. Depdiknas (2002) mengemukakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi memiliki karakteristik sebagai berikut.

  1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
  2. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman.
  3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
  4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsure edukatif.
  5. Penilaiannya menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Bagaimana perkembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi? Pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang kompleks, dan melibatkan berbagai faktor yang saling terkait.Pengembangan kurikulum berbasis kopetensi memfokuskan pada kompetensi tertentu, berupa panduan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat didemonstrasikan peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya.

 

Tingkat Pengembangan Kurikulum

Depdiknas (2002) melukiskan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi sebagai berikut.

Konteks Pendidikan

Otonomi Daerah, Pengembangan Daerah

Pembangunan Berkelanjutan, Kompetensi Standar, Kehidupan Demokratis

Globalisasi, Perkembangan Ilmu dan Teknologi Informasi, Ekonomi Berbasis Pengetahuan, HAM

Kurikulum

Berbasis

Kompetensi

Rekonseptualisasi Kurikulum
Landasan

Filosofi

Pancasila

Kompetensi

&

Hasil belajar

Penilaian

Berbasis Kelas

Kegiatan

Belajar Mengajar

Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah

Pengembangan

Silabus

Seleksi

Materi

Implementasi

Kurikulum

Pemantauan

Kurikulum

Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi seperti pengembangan kurikulum pada umumnya terdiri dari beberapa tingkat nasional, tingkat lembaga, tingkat bidang studi, dan tingkat satuan bahasan (modul). Pengembangan KBK mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan model-model lainnya. Pertama, pendekatannya bersifat alamiah (kontekstual), karena berangkat, berfokus, dan bermuara pada hakekat peserta didik untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan potensinya masing-masing. Kedua, kurikulum berbasis kompetensi boleh jadi mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lain. Penguasaan ilmu pengetahuan, dan keahlian tertentu dalam suatu pekerjaan, kemempuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, serta pengembangan aspek-aspek kepribadian dapat dilakukan secara optimal berdasarkan standar kompetensi tertentu. Ketiga, ada bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang dalam pengembangannya lebih tepat menggunakan pendekatan kompetensi, terutama yang berkaitan dengan keterampilan.

Dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi terdapat prinsip-prinsipnya sebagai berikut.

  1. Keimanan, Nilai, dan Budi Pekerti Luhur

Keimanan, nilai, dan udi pekerti luhur yang dianut dan dijunjung tinggi masyarakat sangat berpengaruh terhadap sikap dan arti kehidupannya. Oleh karena itu, hal tersebut perlu digali, dipahami, dan diamalkan oleh peserta didik melalui pengembangan KBK.

  1. Penguatan Integritas Nasional

Pengembangan KBK harus memperhatikan penguatan integritas nasional melalui pendidikan yang memberikan pemahaman tentang masyarakat Indonesia yang majemuk dan kemajuan peradaban dalam tatanan kehidupan dunia yang multikultur dan multibahasa.

  1. Keseimbangan Etika, Logika, Estetika, dan Kinestetika
  2. Kesamaan memperoleh Kesempatan

Pengembangan KBK harus menyediakan tempat yang memberdayakan semua peserta didik untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap perlu diutamakan dalam pengembangan kurikulum. Seluruh peserta didik dari berbagai kelompok yang kurang beruntung secara ekonomi dan sosial, yang memerlukan bantuan khusus, berbakat, dan unggul berhak menerima pendidikan yang tepat sesuai kemampuan dan kecepatannya.

  1. Abad Pengetahuan dan Teknologi Informasi

Kurikulum perlu mengembangkan kemampuan berfikir dan belajar dengan mengakses, memilih, dan menilai pengetahuan untuk mengatasi situasi yang cepat berubah dan penuh ketidakpastian, yang merupakan kompetensi penting dalam menghadapi abad ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.

  1. Pengembangan Keterampilan untuk Hidup

Pengembangan KBK perlu memasukkan unsure keterampilan untuk hidup agar peserta didik memiliki keterampilan, sikap, dan perilaku adaptif, kooperatif, dan kompetitif dalam menghadapi tantangan dan tuntutan kehidupan sehari-hari secara sfektif. Kurikulum juga perlu mengintegrasikan unsur-unsur penting yang menunjang kemampuan untuk bertahan hidup.

  1. Belajar Sepanjang Hayat

Pendidikan berlangsung sepanjang hidup manusia untuk mengembangkan, menambah kesadaran, dan selalu belajar memahami dunia yang selalu berubah-ubah dalam berbagai bidang. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum berbasis kompetensi perlu memperhatikan kemampuan belajar sepanjang hayat, yang dapat dilakukan melalui pendidikan formal dan pendidikan non-formal, serta pendidikan alternative yang diselenggarakan baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat.

  1. Berpusat pada Anak dengan Penilaian yang Berkelanjutan dan Komperhensif

Pengembangan KBK harus berupaya memandirikan peserta didik untuk belajar, bekerja sama, dan menilai diri sendiri agar mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya. Penilaian berkelanjutan dan komperhensif menjadi sangat penting dalam rangka pencapaian upaya tersebut.

  1. Pendekatan Menyeluruh dan Kemitraan

Pengembangan KBK harus mempertimbangkan semua pengalaman belajar yang dirancang secara berkesinambungan mulai dari TK dan RA sampai dengan kelas XII. Pendekatan yang digunakan dalam mengorganisasikan pengalaman belajar harus berfokus pada kebutuhan peserta didik yang bervariasi dan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu.

Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi implementasi KBK dalam proses pembelajaran? Implementasi merupakan sebuah penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa implementasi kurikulum merupakan penerapan kurikulum itu sendiri. Implementasi kurikulum dipengaruhi oleh tiga faktor sebagai berikut.

  1. Karakteristik lingkungan
  2. Strategi implementasi : yakni strategi yang digunakan dalam implementasi seperti diskusi, seminar, penataran, loka karya, dan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong penggunaan kurikulum di lapangan.
  3. Karakteristik pengguna kurikulum : yang meliputi pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap guru terhadap kurikulum.

Selain itu, menurut Mars (1980), faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kurikulum yakni dukungan kepala sekolah, dukungan rekan sejawat guru, dan dukungan internal yang datang dari dalam diri guru itu sendiri. Keberhasilan implementasi kurikulum disekolah sangat ditentukan faktor-faktor tersebut diatas.

Apa perbedaan kurikulum 1994 dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi? Terdapat perbedaan antara kurikulum berbasis kompetensi dengan kurikulum sebelumnya.

No. Kurikulum 1994 KBK
1. Menggunakan pendekatan penguasaan ilmu pengetahuan, yang menekankan pada isi atau materi, berupa pengetahuan, pemahaman, aplikasi, sintesis, dan evaluasi yang diambil dari bidang-bidang ilmu pengetahuan. Menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau kompetensi tertentu di sekolah yang berkaitan dengan pekerjaan yang ada di masyarakat
2. Standar akademis yang diterapkan secara seragam bagi setiap peserta didik Standar kompetensi yang memperhatikan perbedaan individu, baik kemampuan, kecepatan belajar, maupun konteks sosial budaya
3. Berbasis konten, sehingga peserta didik dipandang sebagai kertas putih yang perlu ditulis dengan sejumlah ilmu pengetahuan Berbasis kompetensi sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan
4. Pengembangan kurikulum dilakukan secara sentralisasi, sehingga Depdiknas memonopoli pengembangan ide dan konsepsi kurikulum Pengembangan kurikulum dilakukan secara desentralisasi, sehingga pemerintah dan masyarakat bersama-sama menentukan standar pendidikan yang dituangkan dalam kurikulum
No. Kurikulum 1994 KBK
5. Materi yang dikembangkan dan diajarkan di sekolah seringkali tidak sesuai dengan potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah Sekolah diberi keleluasaan untuk menyusun dan mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasi potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah
6. Guru merupakan kurikulum yang menentukan segala sesuatu yang terjadi di dalam kelas Guru sebagai fasilitator yang bertugas mengkondisikan lingkungan untuk memberikan kemudahan belajar peserta didik
7. Pengetahuan, keterampilan, dan sikap dikembangkan melalui latihan, seperti latihan mengerjakan soal Pengetahuan, keterampilan, dan sikap dikembangakan berdasarkan pemahaman yang akan membentuk kompetensi individual
8. Pembelajaran cenderung hanya dilakukan didalam kelas, atau dibatasi oleh empat dinding kelas Pembelajaran yang dilakukan mendororng terjalinnya kerja sama antara sekolah, masyarakat, dan dunia kerja dalam membentuk kompetensi peserta didik
9. Evaluasi nasional yang tidak dapat menyentuh aspek-aspek kepribadian peserta didik Evaluasi berbasis kelas yang menekankan pada proses dan hasil belajar

DAFTAR PUSTAKA

  1. Mulyasa, 2005, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Eveline Siregar,Dra dan Nara Hartini. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia

http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_Berbasis_Kompetensi. Jum’at, 7 September 2012 Pkl 07.45

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2178073-pengertian-kbk-kurikulum-berbasis-kompetensi/#ixzz25jxh9njP. Jum’at, 7 September 2012 Pkl 07.55

http://www.sarjanaku.com/2011/04/kurikulum-berbasis-kompetensi.html. Jum’at, 7 September 2012 Pkl 08.05

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s