JENIS BELAJAR MENURUT GAGNE DAN BLOOM

Picture16

Oleh: Cecep Kustandi

cecepkustandi@yahoo.com

Belajar merupakan sebuah proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi (bahkan dalam kandungan) hingga ke liang lahat nanti. Menurut analisis Belajar merupakan proses yang aktif untuk memahami hal-hal baru dengan pengetahuan yang kita miliki. Di sini terjadi penyesuaian dari pengetahuan yang sudah kita miliki dengan pengetahuan baru. Dengan kata lain, ada tahap evaluasi terhadap informasi yang didapat, apakah pengetahuan yang kita miliki masih relevan atau kita harus memperbarui pengetahuan kita sesuai dengan perkembangan zaman.

Berikut ini beberapa prespektif para ahli tentang belajar. Dalam The Guidance of Learning Activities W.H. Burton (1984) mengemukakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku pada diri individu karena adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya

Sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Sementara Ernest R. Hilgard dalam introduction to psychology mendefinisikan belajar sebagai suatu proses perubahan kegiatan, reaksi terhadap lingkungan.

H.C. Witherington dalam Educational Psychology menjelaskan pengertian belajar sebagai suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi berupa kecakapan,sikap,kebiasaan kepribadian atau suatu pengertian. Gagne Berlinger mendefinisikan belajar  sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman.

Harold Spears mengemukakan pengertian belajar dalam perspektifnya yang lebih detail. Menurut spears learning is to observe, to read, to imitate, to try something them selves, to listen, To follow directio (belajar adalah mengamati,membaca, meniru, mencoba sesuatu pada dirinya sendiri, mendengar dan mengikuti aturan.

W.S. Winkel mengemukakan belajar merupakan kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar. Apa yang sedang terjadi dalam diri seseorang yang sedang belajar, tidak dapat diketahui secara langsung hanya dengan mengamati orang itu. Bahkan hasil belajar orang itu tidak langsung kelihatan, tanpa orang itu melakukan sesuatu yang menampakkan kemampuan yang telah diperoleh melalui belajar.

Gagne mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah belajar secara terus-menerus, bukan hanya disebabkan oleh pertumbuhan saja. Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatannya mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari sebelum ia mengalami situasi dengan setelah mengalami situasi tadi. Belajar dipengaruhi oleh faktor dalam diri dan faktor dari luar siswa di mana keduanya saling berinteraksi. Komponen-komponen dalam proses belajar menurut Gagne dapat digambarkan sebagai S  –  R. S adalah situasi yang memberi stimulus, R adalah respons atas stimulus itu, dan garis di antaranya adalah hubungan di antara stimulus dan respon yang terjadi dalam diri seseorang yang tidak dapat kita amati, yang bertalian dengan sistem alat saraf di mana terjadi transformasi perangsang yang diterima melalui alat dria. Stimulus ini merupakan input yang berada di luar individu dan respon adalah outputnya, yang juga berada di luar individu sebagai hasil belajar yang dapat diamati.

Belajar adalah proses yang kompleks yang didalamnya terkandung beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut adalah :

  1. Bertambahnya jumlah pengetahuan
  2. Adanya kemampuan mengingat dan mereproduksi
  3. Ada penerapan pengetahuan
  4. Menyimpulkan makna
  5. Menafsirkan dan mengaitkannya dengan realitas
  6. Adanya perubahan sebagai pribadi.

Dari berbagai perspektif pengertian belajar sebagaimana dijelaskan diatas maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental (psikis) yang berlangsung dalam interaksi denganlingkungannya yang menghasilkan perubahan yang bersifat relatif konstan.

Ciri-ciri belajar :

  1. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun nilai dan sikap (afektif).
  2. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau dapat disimpan.
  3. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan harus dengan usaha. Perubahan terjadi akibat interaksi dengan lingkungan.
  4. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik/ kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan.
  1. Jenis-jenis belajar menurut Gagne

Gagne mencatat ada delapan jenis belajar :

  1. Belajar isyarat (signal learning). dapat diartikan sebagai proses penguasaan pola-pola dasar perilaku bersifat tidak disengaja dan tidak disadari tujuannya. Dalam tipe ini terlibat aspek reaksi emosional di dalamnya. Kondisi yang diperlukan buat berlangsungnya tipe belajar ini adalah diberikannya stimulus (signal) secara serempak, stimulus-stimulus tertentu secara berulang kali. Respon yang timbul bersifat umum dan emosional, selainnya timbulnya dengan tak sengaja dan tidak dapat dikuasai. Contoh: abahabah“Siap!” merupakan suatu signal atau isyarat untuk mengambil sikaptertentu. Melihat wajah ibu menimbulkan rasa senang. Wajah ibu di sini merupakan isyarat yang menimbulkan perasaan senang itu. Melihat ular atauulat yang besar menimbulkan rasa jijik. Melihat ular itu merupakan isyaratyang menimbulkan perasaan tertentu. Signal learning ini mirip denganconditioning menurut Pavlov dan timbul setelah sejumlah pengalaman tertentu.Respon yang timbul bersifat umum, kabur, emosional, disamping timbuldengan tak sengaja dan tak dapat dikuasai.
  2. Belajar Stimulus Respon. Belajar tipe ini memberikan respon yang tepat terhadap stimulus yang diberikan. Reaksi yang tepat diberikan penguatan(reinforcement) sehingga terbentuk perilaku tertentu(shaping). Contoh : Anjing dapat diajari “memberi salam” dengan mengangkat kaki depannya bila kita katakan “kasih tangan” atau “salam”. Ucapan “kasihtangan” merupakan stimulus yang menimbulkan respon “memberi salam” olehanjing itu.

Kemampuan ini tidak dioperoleh dengan tiba-tiba, akan tetapimelalui latihan-latihan. Respon itu dapat diatur dan dikuasai, jadi berlainan dengan belajar tipe 1. Respon bersifat spesifik, jadi tidak umum dan kabur.Respon itu diperkuat atau direinforce dengan adanya imbalan atau reward.Sering gerakan motoris merupakan komponen penting dalam respons itu.Dengan belajar stimulus-respon ini seorang belajar mengucapkan kata-katadalam bahasa asing. Demikian pula seorang bayi belajar mengatakan“Mama”.

  1. Belajar merantaikan (chaining). Tingkah laku “chaining’ dapat merupakan salah satu dari “motor skills”atau verbal association”. Melalui “chaining” berarti kesatuan hubunganStimulus – Respons dalam satu rangkaian. Contoh: dalam bahasa kita banyak contoh “chaining” seperti “ibubapak”,“kampung halaman”, “selamat tinggal” dan sebagainya. Juga dalamperbuatan kia banyak terdapat “chaining” misalnya pulang dari kantor, gantibaju, makan, chaining terjadi bila terbentuk hubungan antara beberapa S-R,oleh sebab yang satu terjadi segera setelah yang satu lagi, jadi berdasarkan“contiguity”.
  2. Belajar Asosiasi Verbal (Verbal Association). Tipe ini meruakan belajar menghubungkan suatu kata dengan suatu obyek yang berupa benda, orang atau kejadian dan merangkaikan sejumlah kata dalam urutan yang tepat. Contoh Bentuk verbal association yang paling sederahana ialah biladiperlihatkan suatu bentuk geometris, dan anak itu dapat mengatakan “bujursangkar”, atau mengatakan “itu bola saya” bila dilihatnya bolanya.

Sebelumnya ia harus dapat membedakan bentuk geometris agar dapat mengenal “bujursangkar” sebagai salah satu bentuk geometris, atau mengenal “bola”, “saya”,“itu”. Hubungan itu terbentuk, bila unsur-unsur itu terdapat dalam urutantertentu, yang satu segera mengikuti yang satu lagi (Contiguity).

  1. Belajar Membedakan (discrimination). Tipe belajar ini memberikan reaksi yang berbeda-beda pada stimulus yang mempunyai kesamaan. Contoh: anak dapat mengenal berbagai merk mobil beserta namanya,walaupun tampaknya mobil itu banyak bersamaan. Demikian pula ia dapatmembedakan manusia yang satu dari yang lain, juga tanaman, binatang, danlain-lain. Guru mengenal murid serta nama masing-masing karena mampumengadakan diskriminasi di antara murid-murid itu. Diskriminasi didasarkanatas “chain”. Anak misalnya harus mengenal mobil tertentu beserta namanya.Untuk mengenal model lain harus pula diadakannya “chain” baru, dengankemungkinan yang satu akan mengganggu yang satu lagi. Makin banyak yangharus dirangkai, makin besar kesulitan yang dihadapi, karena kemungkinangangguan atau “interference”, dan kemungkinan suatu chain dilupakan.
  2. Belajar Konsep (concept learning). Belajar mengklasifikasikan stimulus atau menempatkan obyek-obyek dalam kelompok tertentu yang membentuk suatu konsep. Contoh: tahap pertama belajar konsep lingkaran mungkin belajar mengucapkan kata lingkaran sebagai suatu membangkitkan sendiri hubungan stimulus respon, sehingga siswa dapat mengulangi kata.

Kemudian siswa belajar untuk mengenali beberapa objek berbeda sebagai lingkaran melalui belajar asosiasi verbal individu. Selanjutnya siswa mungkin belajar membedakan antara lingkaran dan objek lingkaran lain seperti dan lingkaran.

  1. Belajar dalil (rule learning). Tipe ini merupakan tipe belajar untuk menghasilkan kaidah yang terdiri dari penggabungan beberapa konsep. Hubungan beberapa konsep biasanya dituangkan dalam bentuk kalimat. Contoh: kita ketahui bahwa 5 x  6 = 6 x 5 dan bahwa 2 x 8 = 8 x 2; akan tetapi tanpa mengetahui bahwa aturannya dapat dinyatakan dengan a x b = b x a. Kebanyakan orang pertama belajar dan menggunakan aturan bahwa perkalian komutatif adalah tanpa dapat  menyatakan itu, dan biasanya tidak menyadari bahwa mereka tahu dan menerapkan aturan tersebut. Untuk membahas aturan ini, harus diberikan verbal(dengan kata-kata) atau    rumus seperti “ urutan dalam perkalian tidak memberikan jawaban yang berbeda” atau “untuk setiap bilangan a dan b, a x b = b x a.
  2. Belajar Memacahkan Masalah (problem solving). Tipe ini merupakan tipe belajar yang menggabungkan beberapa kaidah untuk memecahkan masalah, sehingga berbentuk kaedah yang lebih tinggi(higher order rule). Contoh: pemecahan masalah, siswa yang belum pernah sebelumnya belajar rumus kuadrat, menurunkan rumusnya untuk menentukan penyelesaian umum persamaan ax2+ bx + c = 0. Siswa akan memilih keterampilan melengkapkan kuadrat tiga suku dan menerapkan keterampilan dalam cara yang tepat untuk menurunkan rumus kuadrat, dengan melaksanakan petunjuk dari guru.
  3. Jenis-jenis belajar menurut Bloom
  4. Cognitive Domain (Kawasan Kognitif). Perilaku yang merupakan proses berfikir atau perilaku yang termasuk hasil kerja otak. Contoh: menyebutkan definisi manajemen, membedakan fungsi meja dan kursi,dll. Beberapa kemampuan kognitif tersebut dapat disebutkan antara lain: pengetahuan suatu materi yang telah dipelajari, pemahaman materi, penerapan penggunaan materi yang prinsip, analisa teoritis dengan menggunakan kemampuan akal, sintesa yang memadukan konsep sehingga menemukan konsep baru, dan evaluasi dimana penguasaan suatu materi pengetahuan.
  5. Affective Domain (kawasan Afektif). Perilaku yang dimunculkan seseorang sebagai pertanda kecendrungannya untuk membuat pilihan atau keputusan untuk beraksi di dalam lingkaran tertentu. Contoh: mengganggukan kepala sebagai tanda setuju, meloncat dengan muka berseri-seri pertanda kegirangan,dll. Kawasan ini dibagi menjadi lima jenjang tujuan, yaitu: penerimaan yang meliputi kesadaran akan adanya suatu sistem nilai, pemberian respon, pemberian penghargaan yaitu penilaian meliputi penerimaanterhadap suatu sistem nilai, pengorganisasian yaitu menghimpun sistem nilai yang akan digunakan, dan karakterisasi yaitu perilaku secara terus menerus sesuai dengan sistem nilai yang telah diorganisasikannya.
  6. Psychomotor Domain (kawasan psikomotor). Perilaku yang dimunculkan oleh hasil kerja fungsi tubuh manusia. Domain ini berbentuk gerakan tubuh, antara lain seperti berlari,melompat, melempar, berputar, memukul, menendang,dll. Lima tujuan belajar pada ranah psikomotor yaitu: meniru: kemampuan mengamati suatu gerakan agar dapat merespon, menerapkan: kemampuan mengikuti pengarahan, gerakan pilihan dan pendukung dengan membayangkan gerakan orang lain, memantapkan: kemampuan memberikan respon yang terkoreksi dengan kesalahan-kesalahan, merangkai: koordinasi rangkaian gerak dengan membuat aturan yang tepat, naturalisasi: gerakan yang dilakukan secara rutin dengan menggunakan energi fisik dan psikis yang minimal.
  7. Pengaruh Belajar berdasarkan konsep bloom

Secara umum, hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu faktor-faktor yang ada dalam diri siswa dan faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang berada di luar diri pelajar. Yang tergolong faktor internal adalah:

1)Faktor fisiologis atau jasmani individu baik bersifat bawaanmaupun yang diperoleh dengan melihat, mendengar, strukturtubuh, cacat tubuh, dan sebagainya.

2) faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun keturunan meliputi:

  1. faktor intelektual:
    • Faktor potensial : intelegensi dan bakat
    • Faktor aktual : kecakapan nyata dan presentasi
  1. faktor non intelektual : kmponen-komponen kepribadian tertentu seperti sikap, minat, kebiasaan, motivasi, kebutuhan, Konsep diri, penyesuaian diri, emosional, dan sebagainya.

3) faktor kematangan baik fisik maupun psikis

Sedangkan yang tergolong dalam faktor eksternal ialah :

  1. Faktor sosial yang terdiri atas: faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan masyarakat, faktor lingkungan sekolah,dan faktor kelompok.
  2. Faktor budaya: seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesenian, dan sebagainya.
  3. Faktor lingkungan fisik : fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim dan sebagainya.
  4. Faktor spiritual adalah faktor yang secara tidak langsung maupun secara langsung mempengaruhi kehidupan manusia karena berhubungan langsung dengan sang penciptanya.
  5. Penerapan teori Robert .M. Gagne dalam pembelajaran :
  6. Memperoleh perhatian
  7. Memberikan informasi tujuan pembelajaran
  8. Merangsang siswa untuk mengingat kembali apa yang telah dipelajari
  9. Menyajikan stimulus
  10. Memberikan bimbingan kepada siswa
  11. Memancing kinerja
  12. Memberikan balikan
  13. Menilai hasil belajar
  14. Mengusahakan transfer.

DAFTAR PUSTAKA

Dimyati dan Mudjiono.2009.Belajar dan Pembelajaran.Jakarta:PT Rineka Cipta       

Siregar, Eveline dan Hartini Nara. 2007.Teori Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: Universitas Negeri Jakarta

Winkel.W.S.1987.Psikologi Pengajaran.Jakarta:PT Gramedia

http://bambangsubahri.blogspot.com/2012/03/belajar-kognitifafektif-dan.html

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2200761-aneka-ragam-belajar/#ixzz25roW62ob

http://www.vilila.com/2010/10/teori-belajar-gagne.html#ixzz25rhgIOxl

http://www.scribd.com/doc/34757645/Makalah-Konsep-Pembelajaran

http://www.scribd.com/doc/91568481/Teori-Robert-M-Gagne

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s