CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)

IM_HALSEL_661

Oleh: Cecep Kustandi

cecepkustandi@yahoo.com

Dengan pengertian tentang pembelajaran kontekstual diatas, diperlukan usaha dan strategi pengajaran yang tepat, sehingga dapat dicapai tujuan untuk mengantarkan guru dan murid dalam sebuah pendidikan yang kontekstual.

Untuk lebih memperjelas definisi dari Pembelajaran Kontekstual, kami coba mengambil 3(tiga) pendapat dari ahli pendidikan untuk mendefinisikan pembelajaran kontekstual ini.  Definisi tersebut antara lain :

  • Akhmad Sudrajat

Contextual Teaching And Learning (CTL) merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks

kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa   memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.

  • Diknas

Contextual Teaching and Learning adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan perencanaan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

  • Elaine B. Johnson

Contextual Teaching and Learning (CTL) atau disebut secara lengkap dengan Sistem Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka.

Untuk mencapai tujuan ini, sistem pembelajaran kontekstual mempunyai delapan komponen utama.

Komponen pembelajaran kontekstual tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan Hubungan Bermakna (making meaningful connection)

Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat bekerja sendiri atau kelompok dan orang yang dapat belajar sambil berbuat (learning by doing).

  1. Melakukan Kegiatan-kegiatan yang Signifikan (doing significant work)

Siswa melakukan pekerjaan yang significant, ada tujuan, ada urusannya dengan orang lain ada hubungannya dengan penentuan pilihan dan ada produknya atau hasil yang sifatnya nyata

  1. Belajar Yang Diatur Sendiri (self regulation learning)

Siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat.

  1. Bekerja Sama (collaborating)

Siswa dapat bekerja sama, guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi

  1. Berfikir Kritis dan Kreatif (critical and creative thinking)

Siswa dapat menggunakan tingkat berfikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif yaitu dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan dan menggunakan logika dan bukti-bukti.

  1. Mengasuh atau Memelihara Pribadi Siswa (nurturing the individual)

Siswa memelihara pribadinya yaitu mengetahui memberi perhatian memiliki harapan-harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Siswa menghormati temannya dan orang lain yang lebih dewasa. Karena siswa juga tidak akan berhasil tanpa dukungan dari orang yang lebih dewasa/lebih dituakan.

  1. Mencapai Standar Yang Tinggi ( reaching high standard)

Siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi yaitu mengidentifikasi tujuan memotivasi siswa untuk mencapainya.

  1. Menggunakan Penilaian Yang Autentik (using authentic assesment)

Proses penngumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambatran atau informasi tentang perkembangan pengalaman siswa. Gambaran perkembangan pengalaman siswa perlu diketahui guru setiap saat aagar bisa memastikan benar tidaknya proses belajar siswa.  Dengan demikian penilaian autentik diarahkan pada proses mengamati, menganalisa dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses pembelajaran siswa berlangsung, bukan hanya pada hasil  pembelajaran.  Penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk menunjukan apa yang telah mereka pelajari selama proses belajar mengajar.  Adapun bentuk-bentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru adalah portfolio.  Portfolio merupakan kumpulan tugas yang dikerjakan siswa dalam konteks belajar di kehidupan sehari-hari.  Siswa diharapkan untuk mengerjakan tugas tersebut supaya lebih kreatif.

Mereka memperoleh kebebasan dalam belajar, selain itu portfolio juga memberikan kesempatan lebih luas untuk berkembang serta memotivasi siswa. Penilaian ini tidak perlu mendapatkan penilaian angka, melainkan melihat pada proses siswa sebagai pembelajar aktif.

Sebagai contoh siswa diminta untuk melakukan survey mengenai jenis-jenis pekerjaan di lingkungan rumahnya.

Tugas Kelompok dalam pembelajaran kontekstual berbentuk pengerjaan proyek. Kegiatan ini merupakan cara untuk mencapai tujuan akademik sambil mengakomodasi perbedaan gaya belajar, minat serta bakat dari masing-masing  siswa. Isi dari proyek akademik terkait denga konteks kehidupan nyata, oleh karena itu tugas ini dapat meningkatkan partisipasi siswa. Sebagai contoh siswa diminta membentuk kelompok proyek untuk menyelidiki penyebab pencemaran sungai dilingkungannya.

Dalam penilaian melalui demonstrasi, siswa diminta menampilkan hasil penugasan kepada orang lain mengenai kompetensi yang telah mereka kuasai. Para penonton dapat memberikan evaluasi pertunjukan kepada para siswa .

Sebagai contoh, siswa diminta membentuk kelompok untuk membuat drama dan mementaskannya dalam pertunjukan drama.

Dari beberapa pengertian dan penjelasan  di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar pada saat guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

Dahlan, Ratna Wills. 2010. Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga

Siregar, Eveline. Nara, Hartini. 2007. Buku Ajar Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. Universitas Negeri Jakarta.

http://www.m-edukasi.web.id/2011/12/pengertian-pembelajaran-kontekstual-ctl.html

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/29/pembelajaran-kontekstual/

http://www.tutor.com.my/lada/tourism/edu-kontekstual.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s