TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISTIK

IM_PASER_255

Oleh: Cecep Kustandi

cecepkustandi@yahoo.com

Teori konstruktivistik memahami bahwa belajar sebagai proses pembentukan (konstruksi) pengetahuan oleh si belajar itu sendiri. Pengetahuan ada di dalam diri seseorang yang sedang mengetahui dan pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang guru kepada orang lain (siswa).

Glaserfeld, Bettencourt (1989) dan Matthews (1994), mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang merupakan hasil konstruksi (bentukan) orang itu sendiri. Sementara Piaget (1971), mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalamannya, proses pembentukan berjalan terus menerus dan setiap kali terjadi rekonstruksi karena adanya pemahaman yang baru. Sedikit berbeda dengan para pendahulunya, Lorsbach dan Tobin (1992), mengemukakan bahwa pengetahuan ada dalam diri seseorang yang mengetahui, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang kepada yang lain. Siswa sendiri yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan konstruksi yang telah dibangun sebelumnya.

Adapun ciri-ciri belajar berbasis konstruktivistik yang dikemukakan oleh Driver dan Oldham (1994), yakni :

  1. Orientasi, yaitu siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari suatu topic dengan memberi kesempatan melakukan observasi.
  2. Elastisitas, yaitu siswa mengungkapkan idenya dengan jalan berdiskusi, menulis, membuat poster dan lain-lain.
  3. Restrukturisasi ide, yaitu klarifikasi ide dengan ide orang lain, membangun ide baru, mengevaluasi ide baru.
  4. Penggunaan ide baru dalam berbagai situasi, yaitu ide atau pengetahuan yang telah terbentuk perlu diaplikasikan pada bermacam-macam situasi.
  5. Review, yaitu dalam mengaplikasikan pengetahuan, gagasan yang ada perlu direvisi dengan menambahkan atau mengubah.

Von Glaserfeld (dalam Paul, 1996), mengemukakan bahwa ada beberapa

kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu :

  1. Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman
  2. Kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan tentang sesuatu hal
  3. Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada yang lain (selective conscience)

Sementara, faktor-faktor yang membatasi proses konstruksi pengetahuan adalah sebagai berikut.

  1. Hasil konstruksi yang telah dimiliki seseorang (constructed knowledge) : pengalaman yang sudah diabstraksikan, yang telah menjadi konsep dan telah dikonstruksikan menjadi pengetahuan, dalam banyak hal membatasi pengertian seseorang tentang hal-hal yang berkaitan dengan konsep tersebut.
  2. Domain pengalaman seseorang (domain of experience) : pengalaman akan fenomena baru merupakan unsur penting dalam pengembangan pengetahuan, kekurangan dalam hal ini akan membatasi pengetahuan,
  3. Jaringan struktur kognitif seseorang (existing cognitive structure) : setiap pengetahuan yang baru harus cocok dengan ekologi konseptual (konsep, gambaran, gagasan, teori yang membentuk struktur kognitif yang berhubungan satu sama lain) karena manusia cenderung untuk menjaga stabilitas ekologi system tersebut. Kecenderungan ini dapat menghambat perkembangan pengetahuan.

Peranan guru pada pendekatan konstruktivisme ini lebih sebagai mediator dan fasilitator bagi siswa, yang meliputi kegiatan-kegiatan berikut ini.

  1. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab, mengajar atau berceramah bukanlah tugas utama seorang guru.
  2. Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasannya. Guru perlu menyemangati siswa dan menyediakan pengalaman konflik.
  3. Memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran siswa berjalan atau tidak. Guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan siswa dapat diberlakukan untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan.

Pembelajaran konstruktivistik membantu siswa menginternalisasi dan mentransformasi informasi baru. Transformasi terjadi dengan menghasilkan pengetahuan baru, yang selanjutnya akan membentuk struktur kognitif baru.

Perbedaan karakteristik antara pembelajaran tradisional (behaviouristik) dengan pembelajaran konstruktivistik, adalah sebagai berikut:

No Pembelajaran Tradisional (Behaviouristik) Pembelajaran Konstruktivistik
1 Kurikulum disajikan dari bagian-bagian menuju keseluruhan dengan menekankan pada keterampilan-keterampilan dasar. Kurikulum disajikan mulai dari keseluruhan menuju kebagian-bagian, dan lebih mendekatkan pada konsep-konsep yang lebih luas.
2 Pembelajaran sangat taat pada kurikulum yang telah ditetapkan. Pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide siswa.
3 Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada buku teks dan buku kerja. Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan manipulasi bahan.
4 Siswa dipandang sebagai “kertas kosong” yang dapat digores informasi oleh guru, dan guru-guru pada umumnya menggunakan cara didaktik dalam menyampaikan informasi kepada siswa. Siswa dipandang sebagai pemikir yang dapat memunculkan teori-teori tentang dirinya.
5 Penilaian hasil belajar atau pengetahuan siswa dipandang sebagai bagian dari pembelajaran, dan biasanya dilakukan pada akhir pembelajaran dengan cara testing. Pengukuran proses dan hasil belajar siswa terjalin di dalam kesatuan kegiatan pembelajaran, dengan cara guru mengamati hal-hal yang sedang dilakukan siswa, serta melalui tugas-tugas pekerjaan.
6 Siswa-siswi biasanya bekerja sendiri-sendiri, tanpa ada grup proses dalam belajar. Siswa-siswi banyak belajar dan bekerja di dalam grup proses.

PENERAPAN TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN KIMIA TENTANG PERUBAHAN KIMIA DAN PERUBAHAN FISIS

  1. TOPIK

Tema yang diangkat mengenai “Perubahan Kimia dan Perubahan Fisis”, hal ini dapat dilihat dengan membandingkan pengalaman siswa sehari-hari sebagai contoh mengapa sayur basi tidak dapat disegarkan kembali, serta berbagai contoh lainnya mengenai hal ini.

Guna lebih memberikan warna dalam proses pembelajaran, metode pembelajaran dibuat agar anak dapat meluapkan sebagian besar ide-ide dan pengalamannya terutama dalam diskusi kelas dan metode demonstrasi.

  1. SKENARIO PEMBELAJARAN
  1. Indikator Ketercapaian
  2. Menjelaskan mengenai perubahan materi baik perubahan kimia maupun perubahan fisis
  3. Memberikan contoh dari setiap perubahan
  4. Metode Pembelajaran
  5. Ceramah
  6. Tanya jawab
  7. Diskusi kelas
  8. Skenario Pembelajaran
  9. Kegiatan Awal
    1. Apersepsi (siswa menjawab pertanyaan guru tentang apa itu materi)
  10. Kegiatan Inti
    1. Siswa mendengar penjelasan guru tentang perubahan materi
    2. Siswa memberikan contoh perubahan kimia dalam kehidupan sehari-hari
  • Siswa memberikan contoh perubahan fisis dalam kehidupan sehari-hari
  1. Siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini tentang perubahan materi
  1. Kegiatan Akhir
    1. Siswa merangkum materi pembelajaran hari ini
    2. Tindak lanjut berupa penugasan siswa untuk menganalisa perubahan kimia dan perubahan fisis

REFERENSI

Siregar Eveline dan Nara Hartini (2011), Teori Belajar dan Pembelajaran, Bogor : Ghalia Indonesia.

Hari. 2010. Teori-Teori Belajar dan Penerapannya, http://www.vilila.com/2010/10/teori-teori-belajar-dan-penerapannya.html#ixzz26pS5Y1PF , 18 September 2014. Pukul 20:34 WIB.

Kustandi, Cecep & Sutjipto, Bambang. 2011. Media Pembelajaran; Manual dan Digital. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s