PERENCANAAN PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MEDIA SEDERHANA

Standar

Cecep Kustandi, M.Pd.

Terdapat berbagai jenis dan macam media baik yang berada di dalam maupun di luar kelas. Untuk mempermudah pemahaman kita terhadap keberagaman sumber belajar tersebut, maka dapat dibedakan sebagai berikut:

  1. media by design,  adalah media yang dirancang khusus sesuai dengan kebutuhan pembelajaran guna mencapai tujuan. Misalnya media yang dibuat berupa media grafis, audio, dan media audio visual.
  2. media by utilization, adalah media yang sudah ada dimanfaatkan oleh sekolah guna menunjang pelaksanaan proses pembelajaran. Misalnya media yang ada di lingkungan sekitar sekolah bahkan luar.

Pengembangan dan penggunaan media perlu dilakukan secara sistematik berdasarkan langkah-langkah yang saling terkait untuk menghasilkan pembelajaran yang bermanfaat.

Guru seringkali mengabaikan prosedur perencanaan yang sistematik ini karena berasumsi, jika sudah dibuat dengan baik sesuai dengan materi yang akan diajarkan, atau jika media sudah dijual di pasar, maka media tersebut dapat digunakan dengan efektif dalam proses pembelajaran. Kenyataannya, ada beberapa langkah yang harus dilakukan guru sebelum sampai pada kesimpulan bahwa media sudah dapat digunakan dengan baik, serta media yang digunakan memang baik.

Sebelum seorang guru menggunakan media dalam aktivitas belajar mengajar, hal-hal yang harus diperhatikan diantaranya

  • perumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar/tujuan guruan pada kelas yang dihadapi,
  • topik mata pelajaran,
  • keberadaan media dan sumber yang tersedia,
  • pemilihan teknik dan strategi guruan.

Sedangkan menurut Diamond (234:1986) Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penggunaan media:

  • Jumlah para siswa
  • Homogenitas (menyangkut) kelas
  • Sasaran/tujuan pembelajaran
  • Sumber daya tersedia
  • Ruang yang tersedia
  • Waktu yang tersedia

A.      PENYUSUNAN RANCANGAN_________________

Bila Seorang guru akan membuat program media pembelajaran, diharapkan dapat melakukannya dengan persiapan dan perencanaan yang teliti. Dalam membuat perencanaan itu ada beberapa pertanyaan yang perlu jawab.

  • Bagaimana menggunakan media tersebut?
  • Mengapa kita menggunakan media itu?
  • Apakah media yang digunakan efektif dalam rangka mencapai tujuan pembalajaran?
  • Bagaimanakah karakteristik siswa yang mengikuti aktifitas pembelajaran
  • Betulkah media itu mereka perlukan?
  • Sebalik­nya bila mereka tidak menggunakan media yang digunakan itu apakah mereka akan mengalami kerugian tertentu se­cara intelektual?
  • Bagaimana kita akan menge­tahui bahwa pada diri siswa anda telah terjadi perubahan tingkah-Iaku itu?
  • Apa ukuran yang dapat anda gunakan ?

Bila pertanyaan-pertanyaan di atas disusun secara le­bih sistematik maka urutan dalam perencanaan penggunaan media itu dapat diutarakan sebagai berikut:

  • Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa
  • Merumuskan tujuan
  • Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang mendukung tercapainya tujuan
  • Mengembangkan alat pengukur keberhasilan
  • Menulis naskah media
  • Mengadakan tes dan revisi.

1. Analisis Kebutuhan dan Karakteristik Siswa

Dalam proses belajar mengajar yang dimaksud de­ngan kebutuhan adalah kesenjangan antara kemampuan, keterampilan, dan sikap siswa yang kita inginkan dengan kemampuan, keterampilan, dan sikap siswa yang mereka miliki sekarang. Bila yang kita inginkan, misalnya, siswa da­pat menguasai 1000 kosa kata .bahasa Inggris, sedangkan saat ini mereka hanya menguasai 200 kata, maka ada ke­senjangan 800 kata. Dalam hat ini terdapat kebutuhan untuk mengajar 800 kata bahasa Inggris kepada siswa itu.

Bila yang kita inginkan ialah siswa dapat menjumlah­kan, mengurangi, mengalikan, dan membagi, sedangkan pada saat ini mereka baru dapat menjumlahkan saja, maka kebutuhan pembelajaran itu ialah kemampuan dan keteram­pilan dalam mengurangi, mengalikan dan membagi.Dari kesenjangan itu dapat diketahui apa yang diperlukan atau dibutuhkan siswa.

Jika kita menggunakan media tentu saja kita ber­harap media yang kita buat itu bermanfaat bagi  siswa.  Seorang sekretaris dituntut untuk dapat mengetik dengan cepat dan berbahasa Inggris dengan lan­car. Karena itu kemampuan atau keterampilan mengetik dan berbahasa Inggris merupakan kemampuan dan kete­rampilan yang diinginkan untuk dimiliki oleh para calon sekretaris, maka untuk itu kita memerlukan mesin tik sebagai alat bantu. Apa yang diinginkan itu dapat juga dilihat dari tuntut­an kurikulum.

Siswa kelas enam SD pada akhir tahun ajar­an dituntut untuk memiliki sejumlah kemampuan, dan sikap yang telah dirumuskan dalam kurikulum. Pada awal tahun ajaran tentu terdapat kesenjangan yang sangat besar antara apa yang dituntut oleh kurikulum itu dengan apa yang telah dimiliki siswa. Kesenjangan itulah yang merupa­kan kebutuhan siswa kelas enam itu yang merupakan acuan bagi guru dalam menyusun bahan ajaran yang perlu diberi­kan kepada siswa.

Di atas telah dibicarakan bahwa jika kita mnggunakan media, media itu perlu disesuaikan dengan kebu­tuhan siswa. Karena setiap kelompok siswa pada hakikat­nya mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda, maka kita perlu menentukan secara khas siapa sesungguhnya siswa yang akan kita layani dengan media itu.

Sebagai guru yang memanfaatkan media kita harus dapat mengetahui pengetahuan atau keterampilan awal siswa. Yang dimaksud dengan pengetahuan/keterampilan yang telah dimiliki siswa sebelum ia mengikuti kegiatan pembelajaran.

Sesuatu media akan dianggap terlalu mudah bagi siswa bila siswa tersebut telah memiliki sebagian be­sar pengetahuan/keterampilan yang disajikan oleh  media itu. Sebaliknya media akan dipandang terlalu sulit bagi siswa bila siswa belum memiliki pengetahuan/keterampilan prasyarat yang diperlukan siswa sebelum menggunakan media itu.

Pengetahuan prasyarat ialah pengetahuan/keterampilan yang harus telah dimiliki siswa sebelum menggunakan media itu. Misalnya, seorang siswa yang ingin belajar ucapan dan percakapan dalam bahasa Inggris melalui kaset audio hanya akan dapat mengikutinya dengan baik bila ia telah mempunyai cukup banyak perbendaharaan kosa kata dan telah terampil mengguna­kan struktur kalimat sederhana. Bila syarat tersebut belum dimilikinya, program media akan terlalu sukar baginya. Siswa akan menemui kesulitan untuk mempelajari perka­lian 5 x 476, bila mereka belum memiliki keterampilan mengalikan 5 x 4; 5 x 7 dan 5 x 6. Perkalian 5 x 4 dan se­bagainya itu merupakan keterampilan prasyarat untuk mengalikan 5 x 476.

Media yang terlalu mudah akan membosankan bagi siswa dan sedikit sekali manfaatnya karena siswa tidak memperoleh tambahan kemampuan atau keterampilan. Pada diri siswa tidak akan terjadi perubahan perilaku. Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai telah dikuasai se­belum siswa belajar dari program media itu.

Sebaliknya penggunaan media yang terlalu sulit akan menimbulkan frustasi bagi siswa. Pengetahuan dan keterampil. an yang harus dimiliki oleh siswa tidak dapat diserap dengan baik karena mereka belum memiliki bekal keterampilan intelektual yang cukup untuk menerima pengetahuan atau keterampilan baru itu. Pada diri siswa tidak terjadi perubahan perilaku sesuai dengan yang diharapkan.

Sebelum media dugunakan kita harus meneliti dengan baik pengetahuan awal maupun pengetahuan prasyarat yang. dimiliki siswa yang menjadi sasaran penggunaan media yang kita gunakan. Penelitian ini biasanya dilakukan dengan menggunakan tes. Bila tes ini tidak dapat dilakukan karena persoalan biaya, waktu, maupun alasan lainnya penggunaan media sedikitnya harus dapat membuat asumsi-asumsi mengenai pengetahuan dan keterampilan prasyarat yang harus dimi­liki siswa serta pengetahuan awal yang diduga telah dimiliki siswa.

 

2. Perumusan Tujuan

Tujuan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan kita. Tujuan dapat memberi arah kepada tindak­an yang kita lakukan. Tujuan ini juga dapat dijadikan acuan dalam kita mengukur apakah tindakan kita betul atau sa­lah, ataukah tindakan kita berhasil atau gagal.

Dalam proses belajar mengajar tujuan pembelajaran juga merupakan faktor yang sangat penting. Tujuan ini dapat memberi arah ke mana siswa akan pergi, bagaimana ia harus pergi ke sana, dan bagaimana tahu bahwa ia telah sampai ke tempat tujuan.

Tujuan ini merupakan pernyataan yang menunjukkan perilaku yang harus dapat dilakukan siswa setelah ia meng­ikuti proses pembelajaran tertentu.

Contoh: Diberikan gambar berbagai jenis binatang, siswa dapat membedakan binatang bertulang belakang dari binatang yang tidak bertulang belakang, tanpa berbuat kesalahan.

Dengan tujuan seperti itu baik guru maupun siswa da­pat mengetahui dengan pasti perilaku apa yang harus dapat dilakukan siswa setelah proses pembelajaran selesai, yaitu dapat membedakan gambar binatang bertulang belakang dari yang tidak bertulang belakang. Dengan tujuan yang jelas seperti itu guru dapat menentukan materi pelajaran yang sesuai untuk dipelajari siswa supaya tujuan tercapai. Dengan tujuan itu pula guru dapat menentukan alat peng­ukur yang tepat untuk menilai apakah siswa telah berhasil mencapai tujuan atau belum.

Untuk dapat merumuskan tujuan pembalajaran dengan baik ada beberapa ketentuan yang perlu diingat:

  • Tujuan pembelajaran harus berorientasi kepada siswa bukan berorientasi kepada guru. Yang perlu dinyata­kan dalam tujuan itu haruslah perilaku yang dapat di­lakukan atau yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah proses pembelajaran selesai. Jadi tujuan ini harus berorientasi kepada hasil.
  • Tujuan tidak menyatakan apa yang harus dilakukan guru dalam kegiatan belajar mengajar, karena bukan perilaku guru yang dipentingkan, melainkan perilaku siswa. Jadi bukan proses mencapai tujuan itu yang pen­ting melainkan hasil akhirya.

Sebuah tujuan pembelajaran yang lengkap mempunyai empat unsur, yaitu:

A =            Audience, dalam sebuah tujuan pembelajaran harus jelas siapa sasaran didik kita.

B =            Behavior, sebuah tujuan harus menyatakan de­ngan jelas perilaku apa yang diharap­kan dapat dilakukan siswa pada akhir kegiatan pembelajaran,

C =            Condition, tujuan harus secara jelas menyebutkan dafam kondisi yang bagaimana siswa diharapkan dapat mendemonstrasikan kemampuannya atau keterampilannya

D =            Degree, tujuan harus secara jelas menyebutkan tingkat keberhasilan yang diharapkan dapat dicapai siswa.

3.         Pengembangan Materi Pembelajaran

Setelah tujuan pembelajaran jelas, setelah kita mengetahui kemam­puan dan keterampilan apa yang diharapkan dapat dilaku­kan siswa, kita harus memikirkan bagaimana caranya su­paya siswa memiliki kemampuan dan keterampilan tersebut. Bahan pelajaran apa yang harus dipelajari atau pengalaman belajar apa yang harus dilakukan siswa supaya tujuan pembelajaran itu tercapai?

Untuk dapat mengembangkan bahan pembelajaran yang mendukung tercapainya tujuan itu, tujuan yang telah dirumuskan tadi harus dianalisis lebih lanjut. Seperti halnya pada waktu kita merumuskan tujuan khusus kita bertanya kemampuan apa yang harus dimiliki siswa sebelum ia me­miliki kemampuan yang dituntut oleh tujuan umum itu, demikian pulalah yang harus kita lakukan dalam kita me­ngembangkan bahan yang harus dipelajari siswa. Setiap tujuan pembelajaran khusus harus kita analisis. Kepada se­tiap tujuan itu pertanyaan yang sama harus kita ajukan: kemampuan apa yang harus dimiliki siswa sebelum siswa memiliki kemampuan yang dituntut oleh tujuan khusus ini? Dengan cara ini kita akan mendapatkan sub kemampu­an dan sub keterampilan, serta sub-sub kemampuan dan sub-sub keterampilan. Bila semua sub kemampuan dan ke­terampilan serta sub-sub kemampuan dan keterampilan telah kita identifikasi kita akan memperoleh baban pembelajaran terperinci yang mendukung tercapainya tujuan itu. Daftar kemampuan itulah yang merupakan bahan pembelajaran yang harus disajikan kepada atau dipelajari oleh peserta latihan.

Dengan cara yang sama kita harus mengidentifikasi sub kemampuan dan sub-sub kemampuan yang diperlukan untuk meneapai semua tujuan pembelajaran khusus yang ada. Dengan cara ini kita akan memperoleh bahan pembe­lajaran yang lengkap untuk meneapai tujuan pembelajaran umum yang akan dicapai, dan menentukan media yang cocok.

Setelah daftar pokok-pokok bahan pembelajaran ter­sebut diperoleh tugas kita selanjutnya ialah mengorgani­sasikan urutan penyajian yang logis, artinya dari yang se­derhana ke yang rumit atau dari yang konkrit ke yang abs­trak. Dalam membuat urutan penyajian ini perlu diingat bahwa ada kemampuan atau keterampilan yang saling ber­gantung, artinya sesuatu kemampuan atau keterampilan mungkin baru dapat dipelajari setelah kemampuan lain tertentu dikuasai. Dalam hal ini kemampuan yang satu menjadi prasyarat untuk dapat dipelajarinya kemampuan yang lain.

4. Perumusan Alat Pengukur Keberhasilan.

Dalam setiap kegiatan pembelajaran kita perlu mengkaji apakah tujuan pembelajaran dapat dicapai atau tidak pada akhir kegiatan pembelajaran itu. Untuk keperluan tersebut kita peru mempunyai alat yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa, dalam menggunakan media.

Alat pengukur keberhasilan siswa ini perlu dirancang dengan seksama dan seyogyanya dikembangkan sebelum media digunakan atau sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan. Alat ini dapat berupa tes, penugas­an, ataupun daftar cek perilaku.

Alat pengukur keberhasilan ini harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan pokok-pokok materi pembelajaran yang akan disajikan kepada siswa. Yang diukur atau dievaluasi ialah kemampuan, keterampil­an atau sikap siswa yang dinyatakan dalam tujuan yang di­harapkan dapat dimiliki siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran itu.

Sebaiknya setiap kemampuan dan keterampilan yang mendukung tercapainya tujuan pembelajaran khusus dijadi­kan bahan tes, atau daftar cek perilaku (performance check list).

Tujuan pembelajaran harus cukup, artinya semua as­pek yang ada dalam ruang lingkup tujuan pembelajaran umum harus mempunyai tujuan khusus. Materi pembelajaran harus cukup, artinya semua kemampuan dan kete­rampilan yang diperlukan untuk mencapai semua tujuan pembelajaran khusus harus terjabarkan di dalam materi pembelajaran. Tes harus cukup, artinya semua kemampuan dan keterampilan yang terangkum dalam tujuan pembelajaran khusus dan dalam materi pembelajaran seyogyanya ada alat pengukurnya.

  1. 5. Pemilihan Media dan Sumber Belajar

Pada tahap ini, kita sudah memiliki analisis pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan topik mata pelajaran beserta elaborasinya. Dengan bekal yang sudah dimiliki tersebut selanjutnya kita dapat memilih media dan sumber belajar. Media dari sumber belajar yang dipilih merupakan alat dan cara untuk memfasilitasi, mempermudah proses belajar siswa, serta membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan menarik bagi siswa.

Kita diharapkan tidak memilih media hanya karena media tersebut tersedia bagi kita, selaku guru, atau karena kita suka dengan media tersebut. Di samping itu, diharapkan juga tidak langsung terbujuk oleh ketersediaan beragam media canggih yang sudah semakin pesat berkembang saat ini, scperti komputer. Yang perlu diingat, media yang dipilih adalah untuk digunakan oleh siswa kita dalam proses belajar. Jadi, pilihlah media yang dibutuhkan untuk menyampaikan topik mata pelajaran, yang memudahkan siswa belajar, serta yang menarik dan disukai siswa. Kata kuncinya adalah: ”media yang dapat membelajarkan siswa”. Media itulah yang perlu Anda pertimbangkan untuk dipilih.

Menurut Bates (1995), beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain akses, biaya, pertimbangan pedagogis, interaktivitas dan kemudahan penggunaan, pertimbangan organisasi, kebaruan (novelty), dan kecepatan. Pertimbangan mengenai akses pada dasarnya mempertanyakan sejauh mana siswa memiliki akses terhadap media yang akan digunakan dalam mempelajari paket bahan ajarnya?

Pertimbangan biaya berlaku bagi sekolah maupun siswa, yaitu seberapa mahal/murah media yang dipilih untuk digunakan oleh sekolah dan siswa sebagai paket bahan ajar (biaya produksi atau pengadaan oleh sekolah, biaya akses dan daya beli untuk siswa).

Pertimbangan pedagogis merupakan pertimbangan yang berkenaan dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik materi keilmuan yang akan disampaikan dan dipelajari siswa.

Pertimbangan interaktivitas dan kemudahan penggunaan pada dasarnya mempertanyakan sejauh mana media yang dipilih dapat memfasilitasi interaksi yang diperlukan dalam pembelajaran, dan sejauh mana media tersebut mempermudah siswa dalam belajar?

Pertimbangan mengenai organisasi merupakan pertimbangan manajerial meliputi pengelolaan media dalam proses pembelajaran, dan pasca proses pembelajaran (penyimpanan, dll.).

Pertimbangan novelty berkenaan dengan tingkat kebaruan suatu media sehingga seringkali menimbulkan antusiasme berlebihan dan atau kesukaran beradaptasi serta siklus hidup suatu media. Pertimbangan tentang kecepatan suatu media berkenaan dengan kemampuan suatu media menyampaikan informasi secara cepat dan tepat (timeliness) kepada siswa.

Pertimbangan-pertimbangan tersebut tidak dapat berdiri sendiri-sendiri melainkan saling berinteraksi satu sama lain untuk mendapatkan media yang terbaik bagi suatu paket bahan ajar, sehingga dapat membantu proses belajar siswa secara optimal. Oleh karena itu, ragam media yang digunakan dalam suatu paket bahan ajar harus dipilih berdasarkan pertimbangan yang bijaksana. Ini berarti akan ada bahan ajar yang mungkin hanya menggunakan media cetak, tetapi juga akan ada bahan ajar yang multimedia, atau bahkan berbasiskan komputer/jaringan.

Ragam media dan sumber belajar yang dapat dipilih meliputi sebagai berikut

Media cetak

  • Buku-buku atau buku pelajaran yang sudah beredar di toko buku, atau buku pelajaran yang khusus ditulis dan kembangkan sendiri.
  • Panduan belajar bagi siswa-khusus di kembangkan untuk mendampingi buku pelajaran.
  • Kliping Koran/majalah/artikel/tulisan lepas tentang mata pelajaran yang di susun sendiri
  • Poster, peta, label, gambar-gambar cetak, foto, grafik, formulir, brosur, pamflet, yang diperlukan untuk memperjelas konsep/teori/prinsip/prosedur yang disajikan dalam bahan ajar.
  • Lembar kegiatan siswa – khusus dikembangkan untuk memandu siswa melakukan latihan, tugas, praktek, praktekum, dan digunakan untuk melengkapi buku pelajaran.

Media audio/visual

  • Kaset audio/CD audio
  • Siaran radio (radio broadcasts)
  • Slide (film bingkai)
  • Film
  • Kaset video/CD video
  • Tayangan TV (TV broadcasts)
  • Video interaktif
  • Pembelajaran berbantuan komputer    (simulasi, Computer Assisted Instruction)

Pemanfaatan media audio/visual biasanya dilengkapi dengan lembar kegiatan siswa yang memandu siswa untuk memanfaatkan media audio/visual dalam proses belajarya.

Media Praktek/Demonstrasi

  • Flora atau fauna asli yang ada di sekitar sekolah Model atau realia
  • Laboratorium dan peralatannya
  • Alat atau model yang dibuat guru bersama siswa dari material atau barang bekas yang tersedia di sekitar sekolah

  • Alat atau model yang tersedia di toko (alat-alat musik, dll.)
  • Laboratorium alam (hutan atau kebun buatan, kebun raya, sawah, kolam, kandang ternak, dll.)
  • Laboratorium yang ada di sentra industri pabrik, atau perusahaan Herbarium buatan siswa
  • Pasar
  • Museum

Media lainnya

  • Game atau perangkat permainan yang dijual di toko, seperti scrabbles untuk mengajarkan  vocabulary bahasa  Inggris,   kartu   tambah-kurang   kali-bagi, flashcard, permainan memori, monopoli, atau game dalam bentuk program komputer, dan lain-lain.
  • Game atau perangkat permainan yang dibuat sendiri oleh guru dan atau siswa.
  • Kit sains, kit seni, dan lain-lain.

Sumber belajar lain yang dapat  digunakan adalah tokoh masyarakat, atau tokoh penting yang sesuai dengan topik mata pelajaran. Jika ada seorang tokoh terkenal yang relevan dengan topik mata pelajaran, misalnya polisi untuk topik tata tertib lalu lintas, ataupun guru tamu yang menguasai topik mata pelajaran, kita dapat mengundangnya ke kelas, dan kita dapat memanfaatkannya berdampingan dengan bahan ajar yang telah kembangkan dalam proses belajar siswa.

6. Pemilihan Strategi Pembelajaran

Untuk dapat memilih strategi pembelajaran, diharapkan telah memiliki analisis pembelajaran dan tujuan pembelajaran, serta telah mengidentifikasi topik mata pelajaran (materi), media, dan sumber belajar yang akan digunakan dalam proses belajar. Tahap pemilihan strategi pembelajaran merupakan tahap ketika  menyusun urutan pembelajaran dan merancang aktivitas belajar siswa. Kita merancang urutan penyajian informasi atau uraian topik, latihan dan tugas yang perlu dilakukan siswa, contoh yang perlu diberikan untuk memperjelas topik, serta evaluasi formatif maupun sumatif yang diperlukan siswa untuk mengukur keberhasilan belajarnya.

  1. a. Urutan penyajian

Urutan penyajian berhubungan dengan penentuan tema/isu atau konsep/teori/prinsip/prosedur utama (chief leaching points) yang harus disajikan dalam topik mata pelajaran. Tentunya tidak sukar bagi kita untuk menentukannya, jika telah memiliki peta konsep ketika kita menetapkan topik mata pelajaran (materi). Jika telah mengetahui tema/isu utama, maka bagaimana sebaiknya materi tersebut disajikan?

Berbagai urutan penyajian dapat dipilih, misalnya urutan kronologis (chronological/berdasarkan urutan kejadian, geografis (place-to-place) berdasarkan lokasi tempat/bagian, alur berputar (concentric circles) untuk mengulang kembali topik sebelumnya dan mengaitkan dengan informasi baru, sebab-akibat (causal sequence), logika terstruktur (structural logic/hierarchical) berdasarkan informasi awal yang diperlukan untuk memahami informasi berikutnya, pemecahan masalah (problem-centered) berdasarkan masalah dan kemungkinun solusinya, langkah mundur (backward chaining) berdasarkan isu yang paling akhir kemudian mundur sampai isu yang paling awal.

Sementara itu, urutan pembelajaran diharapkan dapat mengakomodasikan beragam urutan penyajian, dan mengkombinasikannya dengan latihan/tugas, dan contoh. Dalam pembelajaran, latihan/tugas dapat dilakukan oleh siswa terlebih dahulu, sebelum penyajian dan contoh; atau i contoh diberikan terlebih dahulu, sebelum penyajian dan latihan/tugas. Dengan demikian, urutan pembelajaran dapat menjadi PLC (penyajian, latihan, contoh), LPC (latihan, penyajian, contoh), atau CPL (contoh, penyajian, latihan).

  1. b. Aktivitas Pembelajaran

Pembelajaran yang berfokus pada siswa (students-learning centered) dicirikan dengan siswa belajar aktif. Dalam belajar aktif, siswa diharapkan melakukan sesuatu – mengerjakan latihan, tugas dan beragam aktivitas yang akan membentuk pengalaman belajar siswa. Dalam aktivitas pembelajaran, selain bentuk aktivitas, umpan balik yang diberikan pembelajar atau diperoleh siswa juga memegang peran penting. Bentuk aktivitas yang beragam dapat mempermudah siswa belajar, dan membuat pembelajaran menjadi menarik bagi siswa, tidak membosankan atau menjenuhkan. Sementara itu, umpan balik akan berfungsi untuk membantu siswa mengkonfirmasi atau mengukur pengetahuan dan keterampilan yang sudah dipelajarinya. Aktivitas dan umpan balik merupakan dua faktor yang amat berperan dalam proses belajar siswa.

Bentuk aktivitas pembelajaran terkait erat dengan tujuan pembelajaran dan topik mata pelajaran (materi) yang disampaikan. Wardani (2000) menyatakan bahwa jika materi yang disajikan adalah materi baru, adalah wajar jika aktivitas belajar dimulai dengan penyajian informasi. Sebagaimana telah dijelaskan dalam urutan penyajian dan urutan pembelajaran, penyajian informasi dapat dilakukan melalui beragam cara, bukan harus selalu berbentuk teks deskriptif yang harus dibaca siswa, tetapi dapat juga berbentuk permainan, peragaan model, pemutaran video, dan bentuk lain yang variatif. Sementara itu, jika materi yang diberikan kepada siswa adalah materi lanjutan yang sudah pernah dibahas sebelumnya, maka aktivitas pendalaman materi dalam bentuk diskusi kelompok menggunakan LKS (lembar kerja siswa) akan lebih tepat. Tujuan utama dari aktivitas lanjutan ini adalah untuk memantapkan kemampuan siswa dalam penguasaan materi.

Tabel berikut ini dapat membantu Anda untuk merancang aktivitas pembelajaran berdasarkan materi yang disajikan.

Kaitan Ragam Aktivitas dengan Hakikat Materi

No. Hakikat Materi Ragam Aktivitas
Penyajian Informasi Aktivitas
1. Informatif (data, fakta) Naratif, deskriptif Diskusi kelompok (LKS), tanya jawab (in text question), membaca tabel, diagram, peta, gambar, dll.
2. Konseptual (teori, dalil, prinsip, dll). Deduktif atau induktif Diskusi kelompok (LKS), contoh-contoh tertulis, contoh gambar, contoh video, simulasi.
3. Prosedural Deskriptif, eksplanatory Latihan, peragaan, contoh video, simulasi, praktek (LKS)
4. Keterampilan Deskriptif, eksplanatory (modelling) Peragaan, latihan, contoh video, simulasi, praktek (LKS)
5. Nilai/sikap Deskriptif, argumeniatif Peragaan, contoh video, simulasi, praktek (LKS)

(Diadaptasi dari Wardani, 2000, Kaitan Hakikat Materi dan Kegiatan Penyajian)

Ragam aktivitas lain, terutama yang disebut dengan “in text activities”, meliputi:

­       Refleksi oleh siswa tentang konsep atau topik yang baru saja dibaca dan dipelajari, atau yang pernah dialamj dalam kehidupannya;

­       Analisis terhadap suatu kasus, dalam bentuk tercetak atau audiovisual, untuk menerapkan konsep atau topik yang baru dipelajari;

­       Meminta siswa untuk bertanya/diskusi dengan siswa yang lain tentang suatu konsep atau topik;

­       Meminta siswa untuk melakukan kegiatan tertentu berdasarkan lembar kerja atau prosedur yang telah dijelaskan;

­       Meminta siswa untuk menulis Catatan harian atas konsep atau topik-topik yang dipelajarinya;

­       Meminta siswa untuk menulis catatan observasi dari suatu pengamatan yang harus dilakukan dalam beberapa waktu yang di tentukan;

­       Meminta siswa memberi komentar terhadap suatu gambaran dalam bahan ajar. Misalnya: akibat dari banjir.

Selain itu, ada juga aktivitas yang relatif tidak terlalu berat mempelajari bahan ajar, atau membaca teks bahan ajar, yaitu:

­       memberi tanda check pada kotak tertentu berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan yang disampaikan dalam teks; memilih jawaban terhadap pertanyaan pilihan ganda; menggarisbawahi atau memberi warna pada frasa atau kalimat tertentu yang dianggap pentmg dalam teks;

­       menjawab pertanyaan singkat terbuka;

­       menuliskan kata-kata inti dari setiap paragraf pada kotak yang disediakan; atau

­       membuat gambar/grafik/diagram yang diminta berdasarkan konsep atau topik yang dipelajari.

Aktivitas tersebut hanya beberapa contoh saja, karena masih banyak aktivitas lain yang dapat dirancang untuk mengaktifkan partisipasi siswa dalam proses belajar sambil menggunakan bahan ajar. Pilihlah aktivitas yang paling tepat untuk mata pelajaran tersebut dan untuk bahan ajar yang kita kembangkan berdasarkan tujuan pembelajaran, topik, serta siswa.

Jika ragam aktivitas telah ditentukan untuk bahan ajar kita, jangan lupa memperhatikan kapan, di mana, dan berapa banyak umpan balik perlu diberikan kepada siswa. Melalui umpan balik, siswa dapat mengerti tentang pencapaian hasil belajar mereka, tentang keberhasilan dan kegagalannya dalam belajar. Umpan balik korektif dapat meningkatkan usaha siswa untuk memperbaiki kesalahannya, dan mengulang kembali perilakunya yang baik. Umpan balik sebaiknya diberikan secara langsung dan dengan sungguh-sungguh, sehingga bermakna bagi siswa. Umpan balik yang diberikan terlambat dan tidak dengan sungguh-sungguh akan tidak terlalu bermakna bagi siswa, sehingga tidak mempengaruhi upaya siswa dalam belajar.

C. KOORDINASI LOGISTIK______________________

Koordinasi logistik merupakan proses penganalisaan dan penyusunan informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan perancangan pembelajaran, penggunaan media, fasilitas penunjang serta hal-hal lain yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran. Koordinasi logistik merupakan pengkoordinasiaan penggunaan ruangan, koordinasi penjadwalan dan informasi ketersediaan media yang diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Sebagai contoh apakah program kelas yang akan datang menggunakan pembelajaran mandiri, atau pembelajaran kelompok, apakah pelaksanaannya satu semester atau hanya tiga minggu.

Koordinasi logistik merupakan hal penting dan harus terkoordinir dengan baik yang disesuaikan dengan material yang tersedia sehingga pada pelaksanaan pembelajaran waktu berjalan efektif dan sasaran/tujuan pembelajaran tercapai.

Koordinasi logistik memerlukan persiapan dan analisa yang tepat untuk meyakinkan bahwa semua unsur-unsur yang menunjang dalam proses pembelajaran siap dan tersedia.

Koordinasi logistik mencakup usaha-usaha berikut .

  1. Ketersediaan kelas,  termasuk didalamnya jumlah kelas/ruangan yang tersedia, pengunaan jadwal ruangan, apakah ukuran dan fasilitas ruangan sesuai atau tepat untuk digunakannya suatu media.
  2. Sistem komunikasi, memastikan bahwa informasi penting, seperti perubahan penjadwalan dan pertemuan/perkuliahan tambahan bisa difasilitasi di luar penggunaan kelas reguleryang sedang berjalan.
  3. Sistem fungsi pendukung, merupakan keseluruhan aspek yang berkaitan dengan penggunaan fasilitas-fasilitas perkuliahan seperti halnya perpustakaan, laboratorium, dal lain-lain siap digunakan ketika siswa memulai perkuliahan.
  4. Kesesuaian jumlah material yang mendukung program, merupakan informasi dan tindak lanjut yang menyangkut banyaknya para siswa, banyaknya tugas berbarengan, berapa banyak waktu perkuliahan, banyaknya tugas yang dikerjakan siswa bahkan sampai pada berbagai unsur-unsur eksternal, lama liburan siswa.
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s